Catat! Obat Remdesivir Hanya untuk Pasien Covid-19 Kondisi Darurat

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 05 Oktober 2020 19:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 05 481 2288830 catat-obat-remdesivir-hanya-untuk-pasien-covid-19-kondisi-darurat-8ksD5QyFgc.jpg Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)

Upaya meningkatkan angka kesembuhan dan menekan kasus kematian akibat Covid-19 terus dilakukan pemerintah, salah satunya adalah dengan memanfaatkan obat yang dipercaya ampuh bunuh virus corona. Dari banyaknya obat, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) resmi menggunakan remdesivir dan favipiravir untuk pasien Covid-19.

Menurut laporan Badan POM, favipiravir digunakan ke pasien Covid-19 dengan kondisi ringan dan sedang yang dirawat di rumah sakit. Sementara itu, remdesivir diperuntukan untuk pasien Covid-19 dengan kondisi kesehatan parah yang dirawat di rumah sakit.

Badan POM sendiri memberi lampu hijau untuk favipiravir tertanggal 3 September 2020 dengan menerbitkan izin penggunaan dalam kondisi emergensi (Emergency Use Authorization atau EUA). Favipiravir diberikan mandat untuk didistribusikan lewat Industri Farmasi PT Beta Pharmacon (Dexa Group), dengan merek dagang Avigan. Tidak hanya ke PT Beta Pharmacon, izin edar favipiravir pun diberikan Badan POM ke PT Kalbe Farma Tbk.

Obat COVID-19

Sementara itu, untuk remdesivir EUA-nya baru keluar pada 19 September dengan Industri Farmasi PT Amarox Pharma Global, PT Indofarma, dan PT Dexa Medica sebagai produsen dan distributor obatnya.

EUA merupakan persetujuan penggunaan obat atau vaksin saat kondisi darurat kesehatan masyarakat, dalam hal ini pandemi Covid-19. Terhadap produk yang telah mendapatkan EUA, Badan POM terus melakukan pengawasan penyaluran dan peredaran sejak dari industri farmasi, pedagang besar farmasi, dan sarana pelayanan kefarmasian. Pengawasan dapat dilakukan melalui evaluasi pelaporan realisasi importasi, produksi dan distribusi obat yang disampaikan kepada Badan POM.

Baca Juga : Potret Cantik Naomi Zaskia Mantan Kekasih Sule Pakai Bikini

Selain itu, Badan POM juga mewajibkan industri farmasi selaku pemilik EUA untuk menjamin mutu obat, melakukan uji klinik di Indonesia untuk memastikan khasiat dan keamanan obat, serta melakukan farmakovigilans melalui pemantauan dan pelaporan efek samping obat yang harus disampaikan kepada Badan POM. Hal-hal tersebut merupakan upaya Badan POM dalam melindungi masyarakat berupa pemastian keamanan, khasiat, dan mutu obat yang beredar.

"Penerbitan EUA diharapkan dapat memberikan percepatan akses obat-obat yang dibutuhkan dalam penanganan Covid-19 oleh para dokter sehingga mempunyai pilihan pengobatan yang sudah terbukti khasiat dan keamanannya dari uji klinik," kata Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito, dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Senin (5/10/2020).

Dengan tersedianya obat-obat tersebut, Penny berharap, dapat meningkatkan angka kesembuhan dan menurunkan angka kematian pasien Covid-19 yang menjadi target pemerintah dalam percepatan penanganan Covid-19.

"Semoga para dokter dan tenaga kesehatan lain bekerja sama untuk berpartisipasi aktif dalam pemantauan terhadap khasiat dan keamanan melalui kegiatan Farmakovigilans," lanjutnya.

Farmakovigilans sendiri merupakan kegiatan pemantauan dan pelaporan kejadian tidak diinginkan dan/atau efek samping obat pada pasien oleh dokter dan tenaga kesehatan lainnya di fasilitas pelayanan kesehatan. Semua laporan tersebut diterima Badan POM dan dievaluasi secara periodik.

Favipiravir

Apabila terdapat peningkatan frekuensi efek samping, maka Badan POM dapat melakukan tindak lanjut dengan memberikan komunikasi risiko dan pencabutan EUA untuk meningkatkan kehati-hatian dalam penggunaan dan perlindungan kesehatan masyarakat.

Sebagai bagian dari Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional serta anggota Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, selain percepatan akses obat, Badan POM juga berupaya melakukan percepatan akses vaksin yang digunakan dalam penanganan Covid-19.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini