Punya Fantasi Seksual Termasuk Gangguan Mental?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 08 Oktober 2020 14:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 08 481 2290392 punya-fantasi-seksual-termasuk-gangguan-mental-626DGHoFjy.jpg Ilustrasi (Foto : Lovepanky)

Media sosial ramai membahas Renatta Moeloek yang dijadikan fantasi seks akun Twitter @lont*kampus. Beberapa netizen menilai apa yang dilakukan pelaku sangat tidak bermoral.

"Engak ada akhlak," tegas pemilik akun @Lil_grizzly****. Begitu juga kata @stravw****, "Astaghfirulloh berdosa banget." Sementara itu, ada netizen yang berkomentar ini, "Cuekin aja, lah. Emang bang**t tuh orang. Kamu mau dibawain apa nanti pas aku pulang kerja, yang? Seblak? Boba?" tulis @bimbimhock***.

Berkaca dari kasus ini, apakah memiliki fantasi seks itu wajar? Atau itu bagian dari gangguan mental?

Pasutri

Menjawab hal tersebut, Psikolog Klinis Meity Arianty menjelaskan bahwa fantasi seks setiap orang itu akan berbeda. Laki-laki atau perempuan hampir memiliki fantasinya masing-masing, baik itu diakui atau tidak, namun paling sering dilakukan orang yang sudah menikah.

Lebih lanjut, Mei coba menuturkan permasalahan fantasi seks melalui teori yang pernah disampaikan Lehmiller, seorang psikolog asal Kinskey. Dalam teori tersebut diterangkan bahwa Lehmiller pernah melakukan penelitian terkait fantasi seks.

Penelitian tersebut menemukan fakta bahwa ada perbedaan fantasi pria dengan perempuan. "Kalau perempuan cenderung berfantasi tentang pengalaman seks sesama jenis dibanding laki-laki dan perempuan lebih menekankan pada di mana mereka berhubungan seks. Beda dengan laki-laki yang cenderung memiliki fantasi seks lebih erotis dan fokus pada dengan siapa mereka berhubungan seks," tulis laporan tersebut.

Baca Juga : Viral Potret Nama Anya Geraldine di Tengah Aksi Massa Tolak UU Cipta Kerja

Dan menurut Lehmiller, sambung Mei, fantasi setiap orang tampaknya mencerminkan siapa mereka dan biasanya fantasi seks dirancang untuk memenuhi kebutuhan psikologis orang tersebut yang unik. Maksudnya, bagi pasangan yang sudah menikah, fantasi seksual dibutuhkan dengan berbagi pertimbangan, salah satunya memberikan manfaat bagi kehidupan intim mereka atau membantu mengeksplorasi hal-hal baru dalam berhubungan intim yang tidak pernah terpikirkan.

"Nah, yang perlu diketahui masyarakat, ada yang mengomunikasikan hal tersebut, tapi ada juga yang tidak. Menurut saya, setiap orang punya pertimbangannya masing-masing apakah membutuhkan fantasi seks dalam hubungan mereka atau tidak, tergantung setiap orang memandang hal ini dari sudut mana," papar Mei.

Ia pun menegaskan bahwa fantasi seks itu ada di ranah personal, sehingga itu semua tergantung dari masing-masing individu menyikapi hal ini seperti apa. "Menurut saya ini hak setiap orang. Jika merasa fantasi seks itu dibutuhkan dan bermanfaat bagi dirinya, pasangan, dan hubungannya, ya tidak masalah," tambahnya.

Pasutri

Mei pun menegaskan bahwa setiap orang punya caranya masing-masing dalam urusan seks. Perlu dicatat, baik buat satu orang belum tentu baik buat yang lain dan benar buat satu orang belum tentu benar di mata orang lain. Sehingga yang terpenting adalah hal yang dilakukan memiliki dasar yang jelas. "Kita enggak bisa menghakimi orang lain tanpa tahu kebenarannya," tegasnya.

Sementara itu, terkait dengan apakah memiliki fantasi seks berkaitan dengan masalah mental, Mei dengan tegas menyatakan tidak ada kaitannya. "Punya fantasi seks itu normal. Tapi, ingat ini sangat personal jadi kalau sudah dibawa ke ranah publik, sudah beda ceritanya," jawabnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini