Pandemi Covid-19 Terbukti 'Rusak' Kesehatan Mental Orangtua

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 09 Oktober 2020 14:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 09 481 2291022 pandemi-covid-19-terbukti-rusak-kesehatan-mental-orangtua-zZxYlOzXee.jpg Orangtua stres (FotoL Clay center for Young Healthy Minds)

Pandemi Covid-19 tidak hanya memberi bikin khawatir terhadap kesehatan tubuh, tetapi juga mental. Para orangtua menghadapi banyak masalah pada situasi seperti ini.

Pandemi mengharuskan kita semua menetap di rumah saja. Walau pada kenyataannya banyak juga orangtua yang masih kerja ke luar rumah. Tapi tak bisa dipungkiri kehidupan di rumah saja memberi dampak pada kesehatan mental.

 stres di tengah pandemi

Menurut laporan New York Times, pandemi Covid-19 yang sudah memasuki usia ke-7 bulan ini memberi dampak kesehatan mental pada orangtua yang cukup signifikan, bahkan tidak memperlihatkan keadaan membaik.

Penelitian dari American Psychological Association bahkan menunjukkan fakta bahwa pada April dan Mei 2020, orangtua yang memiliki anak di rumah di bawah 18 tahun mengaku lebih stres.

Data terbaru dari survei RAPID-EC Universitas Oregon, yang mensurvei 1.000 orangtua dengan anak di bawah 5 tahun setiap minggu sampai akhir Juli melaporkan sangat stres. Survei ini akan dilakukan kembali dengan durasi survei Agustus hingga Desember 2020.

"63 persen orangtua mengatakan bahwa mereka merasa kehilangan dukungan emosional selama pandemi," tulis laporan tersebut.

Menurut studi di Harvard's Graduate School of Education, 61 persen orangtua dengan anak berusia 5, 6, dan 7 tahun di Massachusetts setuju atau sangat setuju bahwa mereka merasa gugup, cemas, atau gelish karena pandemi.

"Jadi, bisa dikatakan bahwa pandemi menjadi gangguan kestabilan emosional yang tak bisa diabaikan, baik untuk si orangtua maupun anaknya," kata Pooja Lakshmin, MD, asisten profesor klinis psikiatri di Fakultas Kedokteran Universitas George Washington.

Dalam laporan ini juga diterangkan bahwa meskipun banyak orangtua merasakan peningkatan stres, dua subkelompok mungkin sangat berisiko mengalami dampak stres yang lebih serius yaitu kecemasan dan depresi klinis. Dua kelompok tersebut ialah ibu hamil atau baru melahirkan dan orangtua yang ekonominya terganggu.

Sebelum pandemi, kecemasan dan depresi memengaruhi antara 10 hingga 25 persen perempuan selama kehamilan dan pada tahun pertama setelah melahirkan. Tapi, dua studi di Kanada melaporkan angka yang meningkat setelah pandemi muncul.

Studi pertama dilakukan pada 2.000 perempuan hamil yang menunjukkan 37 persen di antara mereka mengalami tingkat depresi yang signifikan secara klinis. Lalu, 57 persen lainnya menunjukkan tingkat kecemasan yang signifikan secara klinis.

Studi lainnya dilakukan pada 900 perempuan, beberapa hamil dan beberapa baru saja melahirkan. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat depresi meningkat menjadi 40 persen dari 15 persen sebelum pandemi. Lalu, untuk angka kecemasannya meningkat menjadi 72 persen dari sebelumnya 29 persen.

Jika bicara soal pemicu, menurut survei yang dilakukan RAPID-EC University of Oregon, stres saat pandemi muncul karena ketidakmampuan seseorang untuk memberikan makan, pakaian, dan situasi rumah yang layak untuk anak-anak mereka.

"Ya, perasaan tidak cukup untuk si anak menjadi landasan utama orangtua mengalami stres," kata Philip Fisher, PhD, direktur Center of Translational Neuroscience di Universitas Oregon.

Pemimpin penelitian itu menjelaskan bahwa di awal studi, pihaknya mengira rasa takut sakit akan menjadi sumber terbesar stres. Tapi, berjalannya waktu, orangtua yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar anak-anak merasakan gejolak emosional terbesar.

Baca juga: Pesona Anya Geraldine Pakai Tanktop Putih, Netizen: Mirip Aurel Hermansyah

"Lebih dari 60 persen pengasuh yang mengalami masalah keuangan ekstrem pun melaporkan tekanan emosional, dibandingkan dengan lebih dari 30 persen pengasuh yang tidak memiliki masalah keuangan," ungkap laporan ini.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini