Efek Pandemi, Anak-Anak Kesepian hingga Depresi

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 09 Oktober 2020 14:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 09 481 2291054 efek-pandemi-anak-anak-kesepian-hingga-depresi-lc9pq9crJm.jpg Merasa kesepian (Foto: The List)

Pandemi Covid-19 memberi dampak luar biasa untuk kehidupan manusia. Jika bicara soal kesadaran kesehatan, tentu faktanya makin banyak orang yang menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Tapi, di sisi lain, efek negatif pun bermunculan, salah satunya masalah kesehatan mental.

Ya, kesehatan mental menjadi masalah yang banyak dikeluhkan orang-orang selama pandemi. Beberapa masalahnya seperti depresi, kesepian, kecemasan, atau ketakutan berlebih. Nahasnya, anak-anak pun mengalami masalah ini.

 anak kesepian

Menurut laporan Time, peneliti di Hubei, China, sempat melakukan survei pada 2.330 anak untuk mencari tanda-tanda tekanan emosional. Hasilnya diketahui bahwa 22,6 persen anak-anak melaporkan gejala depresi dan 18,9 persen mengalami kecemasan. Studi ini diterbitkan di JAMA Pediatrics.

Bahkan, dalam makalah yang diterbitkan di Health Economics, Golberstein dan rekan penulisnya menemukan fakta bahwa masalah ekonomi memengaruhi kesehatan mental anak-anak.

"Pengangguran yang tinggi berkolerasi pada 35 hingga 50 persen masalah mental anak secara klinis," papar laporan tersebut.

Salah satu cerita datang dari Lisa Stanton, seorang ibu dari anak kembar beda kelamin yang tinggal di Houston. Efek pandemi, anak-anaknya yang harus merasakan 'lockdown' mengalami masalah perilaku.

Jadi, anak laki-lakinya memiliki masalah belajar, sedangkan anak perempuannya jadi kecanduan gawai.

"Pada kasus anak saya yang perempuan, dia sampai punya akun TikTok dengan identitas diri yang dituakan. Lalu, suatu ketika saya mengambil gawainya dan dia merengek sambil memberi alasan, 'Saya kesepian jika tidak bermain gawai'," cerita Lisa.

Ya, kesepian menjadi masalah serius yang dialami anak-anak selama pandemi ini. Terlebih, ketika si anak mengalami kondisinya langsung seperti pandemi Covid-19.

Dijelaskan Roxane Cohen Silver, psikolog sosial di University of California, ketika orangtua si anak mengalami masalah ekonomi misalnya, ini akan memberi dampak pada pandangan si anak tentang dunia. Jadi, bisa dikatakan dampak pada rasa aman anak itu bergantung pada sejauh mana pengaruh keluarga.

Baca juga: Pesona Anya Geraldine Pakai Tanktop Putih, Netizen: Mirip Aurel Hermansyah

Sementara itu, variabel lain yang bisa membuat anak terganggu kesehatan mentalnya ialah apakah si anak punya masalah mental sebelum pandemi atau tidak.

Di Amerika Serikat, 7,1 persen anak dalam usia 3-17 tahuh didiagnosis mengalami kecemasan, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC). Di usia yang sama, 3,2 persen lainnya menderita depresi. Kemudian, ada 7,4 persen anak mengalami masalah perilaku terdiagnosis dan 9,4 persen dengan ADHD.

"Jadi, anak-anak yang memang sebelumnya sudah punya masalah kesehatan mental akan semakin terdampak karena pandemi ini," kata Psikolog Robin Gurwitch, profesor di Duke University Medical Center.

Dia pun menyarankan agar orangtua lebih berhati-hati jika memang anaknya sudah terdiagnosis mengalami masalah kesehatan mental sebelum pandemi menyerang.

Sementara itu Silver menjelaskan bahwa usia menjadi faktor besar dalam menentukan seberapa besar pandemi memberi dampak pada si anak.

Menurutnya, anak-anak yang masih sangat kecil mungkin tidak melihat situasi ini sebagai masalah, kecuali orangtua mereka tidak bekerja dan memberi perubahan dalam pola asuhnya.

"Tapi, beda cerita ketika kita bicara soal anak usia sekolah. Bagi kebanyakan dari mereka, selalu bersama orangtua adalah sesuatu yang tidak mengasyikan, beda ketika mereka bersama teman sebayanya. Tidak ingat waktu," papar Silver.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini