5 Mitos Tentang Kesehatan Mental yang Perlu Anda Ketahui

Wilda Fajriah, Jurnalis · Sabtu 10 Oktober 2020 09:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 10 481 2291435 5-mitos-tentang-kesehatan-mental-yang-perlu-anda-ketahui-uZ8qHvvIml.jpg Ilustrasi (Foto: Health Europa)

Mental health atau isu kesehatan mental menjadi perbincangan hangat di tengah pandemi Covid-19. Meski topik ini mendapat perhatian dan penelitian yang semakin meningkat, namun masih banyak mitos dan kesalahpahaman yang terkait dengan kesehatan mental.

Sayangnya, masih ada stigma signifikan yang melekat pada kondisi kesehatan mental, dengan sebagian besar mengandalkan pemikiran kuno dan asumsi kuno.

Melansir Medical News Today, berikut 5 mitos mengenai kesehatan mental yang perlu Anda ketahui.

Mental health merupakan penyakit langka

Pada 2001, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa 1 dari 4 orang di dunia akan terpengaruh oleh gangguan mental atau neurologis pada suatu saat dalam hidup mereka.

Salah satu gangguan kesehatan mental yang paling umum adalah depresi, mempengaruhi lebih dari 264 juta orang di seluruh dunia pada 2017. Sebuah studi terbaru, yang berkonsentrasi di Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa jumlah orang dewasa yang mengalami depresi meningkat tiga kali lipat selama pandemi.

Gangguan kecemasan umum (GAD), gangguan mental umum lainnya, memengaruhi sekitar 6,8 juta orang dewasa di AS, setara dengan lebih dari 3 dari setiap 100 orang.

Serangan panik bisa berakibat fatal

Serangan panik sangat tidak menyenangkan, melibatkan detak jantung yang berdebar kencang dan rasa takut yang berlebihan. Namun, mereka tidak bisa berakibat fatal secara langsung.

Namun, perlu dicatat bahwa seseorang yang mengalami serangan panik mungkin lebih berisiko mengalami kecelakaan. Jika seseorang mengalami serangan panik atau merasakan serangan panik, mencari tempat yang aman dapat membantu mengurangi risiko ini.

 Mental health atau isu kesehatan mental menjadi perbincangan hangat di tengah pandemi Covid-19.

Baca juga: Ini Perbedaan Kopi Arabika dan Robusta

Orang dengan kondisi kesehatan mental tidak bisa bekerja

Mitos lama yang tetap ada hingga saat ini adalah orang dengan masalah kesehatan mental tidak dapat mempertahankan pekerjaan atau menjadi anggota angkatan kerja yang berguna. Ini sepenuhnya salah.

Memang benar bahwa seseorang yang hidup dengan kondisi kesehatan mental yang sangat parah mungkin tidak dapat melakukan pekerjaan secara teratur. Namun, mayoritas orang dengan masalah kesehatan mental bisa sama produktifnya dengan individu tanpa gangguan kesehatan mental.

Sebuah studi AS yang diterbitkan pada tahun 2014 menyelidiki status pekerjaan menurut tingkat keparahan penyakit mental. Para penulis menemukan bahwa, seperti yang diharapkan, "Tingkat pekerjaan menurun dengan meningkatnya keparahan penyakit mental."

Namun, 54,5% orang dengan kondisi parah dipekerjakan, dibandingkan dengan 75,9% orang tanpa penyakit mental, 68,8% orang dengan penyakit mental ringan dan 62,7% orang dengan penyakit mental sedang.

Ketika para peneliti melihat efek usia, mereka menemukan bahwa kesenjangan pekerjaan antara orang-orang dengan kondisi kesehatan mental dan mereka yang tidak melebar seiring bertambahnya usia.

Pada orang yang berusia 18-25 tahun, perbedaan dalam tingkat pekerjaan antara mereka dengan dan tanpa penyakit mental serius hanya 1%, tetapi pada kelompok 50-64, selisihnya adalah 21%.

Orang yang menderita gangguan kesehatan mental adalah 'lemah'

Gangguan kesehatan mental adalah penyakit, bukan tanda karakter yang buruk. Hal ini sama seperti penyakit diabetes atau psoriasis, yang bisa disembuhkan jika dilakukan pengobatan yang benar.

Hanya orang yang tak punya teman yang membutuhkan terapis

Ada perbedaan besar antara terapi bicara terstruktur dan berbicara dengan teman. Keduanya dapat membantu orang dengan penyakit mental dengan cara yang berbeda, tetapi terapis terlatih dapat menangani masalah secara konstruktif dan dengan cara yang bahkan tidak dapat ditandingi oleh teman terbaik.

Juga, tidak semua orang bisa terbuka sepenuhnya di depan orang terdekat dan tersayang mereka. Terapi bersifat rahasia, obyektif, dan sepenuhnya berfokus pada individu, yang umumnya tidak mungkin dilakukan dalam obrolan informal dengan teman yang tidak terlatih.

Ditambah lagi, beberapa orang tidak memiliki teman dekat. Ada banyak kemungkinan penyebabnya, dan tidak ada alasan untuk meremehkan seseorang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini