Deteksi Stroke, Meraba Denyut Nadi Sendiri Yuk

Agregasi Sindonews.com, Jurnalis · Senin 12 Oktober 2020 08:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 12 481 2292058 deteksi-stroke-meraba-denyut-nadi-sendiri-yuk-Z5Dtynl4JO.jpg Terserang stroke (Foto: Nayati Healthcare)

Penyakit stroke merupakan penyakit yang masih jadi momok di Tanah Air. Sebab sudah banyak orang yang meninggal akibat stroke.

Bahkan stroke menempati urutan pertama penyakit penyebab kematian di Indonesia dan urutan kedua penyebab kematian di seluruh dunia, setelah penyakit jantung koroner.

 pasien stroke

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Siloam Hospitals Manado, dr Vekky Sariowan, Sp.JP mengatakan, menurut riset kesehatan dasar 2018 menyebutkan, Provinsi Sulawesi Utara menempati urutan ketiga dalam hal prevalensi penyakit stroke.

Rupanya ada dua macam tipe stroke ditinjau dari segi etiologi. Pertama, stroke yang disebabkan oleh sumbatan aliran darah atau yang dikenal dengan stroke iskemik.

Kedua, yaitu stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak atau stroke hemoragik. Komposisi 2/3 dari total populasi pasien stroke terdiri dari stroke iskemik, di mana salah satu penyebabnya adalah cardioembolic.

Fibrilasi atrium adalah suatu keadaan dimana serambi (atrium) jantung tidak berkontraksi secara normal atau hanya terjadi fibrilasi, menyebabkan jantung berdenyut secara ireguler.

"Nah, keadaan ini menyebabkan aliran darah di serambi jantung menjadi stasis dan mudah terbentuk bekuan darah. Bekuan darah pada ruang jantung tersebut yang apabila terlepas dapat menyebabkan sumbatan aliran darah otak (cardioembolic)," kata Vekky Sariowan dalam kesempatan Webinar belum lama ini.

Menurut dr Vekky Sariowan, salah satu langkah awal untuk mencegah terjadinya stroke, adalah dengan melakukan deteksi dini penyakit fibrilasi atrium.

Menurut pedoman terbaru yang diterbitkan oleh perhimpunan dokter spesialis kardiovaskular Eropa 2020, salah satu metode deteksi penyakit Fibrilasi Atrium adalah meraba nadi sendiri, terutama pada individu berusia lebih dari 65 tahun.

Hal ini dilatarbelakangi karena lebih dari 30% penderita fibrilasi atrium gejala awalnya yakni stroke.

dr Vekky Sariowan menjelaskan, beberapa tindakan medis lanjutan untuk deteksi stroke dilakukan dengan melakukan penapisan atau pemeriksaan berkala pada setiap individu sehat yang berusia lebih dari 5 tahun seperti pemeriksaan tekanan darah, rekam jantung dan laboratorium.

Pengobatan khusus yang diberikan pada pengidap stroke sejatinya tergantung etiologinya. Mengobati penderita stroke diperlukan tenaga dokter spesialis neurologi dengan berbagai tingkat kompetensinya dan dokter spesialis bedah saraf konsultan yang siap melakukan penanganan masalah stroke.

Baca juga: Ini Penjelasan Alquran dan Sains Mengenai Terbentuknya Alam Semesta

Pasien juga tak perlu takut ke rumah sakit jika memang mengalami gejala stroke. Pencegahan lebih dini akan menyelamatkan jiwa lebih cepat.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini