Kisah Pemuda Terinfeksi Covid-19 2 Kali dengan Jarak Waktu 48 Hari

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 13 Oktober 2020 11:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 13 481 2292728 kisah-pemuda-terinfeksi-covid-19-2-kali-dengan-jarak-waktu-48-hari-nUYixt3hza.jpg Pemuda terkena Covid-19 (Foto: Freepik)

Pasien Covid-19 yang dinyatakan negatif dalam pemeriksaan PCR test terbukti bisa terinfeksi kembali. Bahkan, kasus terbaru menjelaskan bahwa virus bisa menginfeksi kembali dalam waktu yang relatif singkat jaraknya.

Menurut laporan HuffPost, pasien berusia 25 tahun di Nevada, Amerika Utara, menjadi pasien pertama yang mengalami kondisi kekambuhan Covid-19. Ia dinyatakan positif kembali hanya berselang 48 hari.

Pada kondisi positif Covid-19 kedua, si pasien diketahui mengalami kondisi yang jauh lebih parah. Ia bahkan mesti menjalani perawatan intensif di rumah sakit hingga membutuhkan bantuan oksigen.

 pandemi Covid-19

Dari kasus tersebut, ada dua kekhawatiran yang menjadi sorotan laporan. Pertama, infeksi virus corona dapat menginfenksi kembali pasien Covid-19 yang sudah dinyatakan negatif dalam jangka waktu singkat dan lebih parah.

Kedua, temuan kasus ini menunjukkan bahwa paparan Covid-19 tidak bisa diterjemahkan menjadi kekebalan total pada si pasien.

Lantas, bagaimana peristiwa ini terjadi?

Pada April 2020, pria yang berasal dari Washoe County dinyatakan positif Covid-19 dengan gejala berupa sakit tenggorokan, batuk, sakit kepala, mual, dan diare. Gejala tersebut muncul pertama kali pada 25 Maret 2020.

Dalam laporannya, si pasien ini tidak memiliki kelainan kekebalan atau kondisi yang mendasari. Selama menjalani isolasi, gejala pasien perlahan menghilang dan dia terus melaporkan kesehatannya membaik hingga 28 Mei 2020.

Pada 31 Mei, pria ini mencari bantuan di pusat perawatan darurat karena gejalanya muncul kembali yaitu demam, sakit kepala, pusing, batuk, mual, dan diare. Pemeriksaan Radiografi dada pun dilakukan, setelah itu dia dipersilahkan pulang.

 Baca juga: Selain Uang Kertas, Virus Corona Bertahan di Permukaan Ponsel hingga 28 Hari

Lima hari kemudian, pada 5 Juni, si pasien datangi dokter perawatan primer. Pemeriksaan menjelaskan bahwa ia memiliki kadar oksigen yang rendah di tubuhnya dan berjuang dengan sesak napas. Setelah itu, si pasien dikirim ke rumah sakit dan dinyatakan positif Covid-19 untuk kedua kalinya.

Kini, diketahui bahwa si pasien sembuh dari infeksi Covid-19 keduanya dan sudah keluar dari rumah sakit.

Di sisi lain, para peneliti melakukan pengumpulan genom sampel virus pasien tersebut. Kemudian, diurutkan dari April hingga Juni, diketahui bahwa terdapat perbedaan genetik yang signifikan antara kedua kasus positifnya.

"Ini menunjukkan bahwa si pasien terinfeksi dua kali oleh dua infeksi SARS-CoV2 yang berbeda," tulis laporan tersebut.

Peneliti utama, Mark Pandori, dari Laboratorium Kesehatan Masyarakat Negara Bagian Nevada di Universitas Nevada, menjelaskan lebih detail lagi bahwa masih ada banyak yang tidak diketahui peneliti tentang infeksi SARS-CoV2 ini. Selain itu, soal respons sistem kekebalan pun masih banyak yang perlu dipelajari.

"Tetapi, temuan kami ini menandakan bahwa infeksi SARS-CoV2 sebelumnya mungkin tidak melindungi penyintas Covid-19 dari paparan virus di kemudian hari," Pandori memperingatkan.

Ia melanjutkan, penting untuk dicatat bahwa ini merupakan temuan tunggal dan tidak memberi generalisasi dari fenomena ini secara keseluruhan. Karena itu, perlu dilakukan penelitian di bidang ini lebih lanjut lagi.

"Namun, kemungkinan infeksi ulang dapat memiliki implikasi yang signifikan untuk pemahaman kami tentang kekebalan Covid-19, terutama dengan tidak adanya vaksin yang efektif," paparnya.

Dari temuan ini para peneliti pun mengimbau agar pasien Covid-19 yang sudah sembuh untuk tetap berhati-hati. "Kami mendesak para penyintas Covid-19 untuk mengambil tindakan pencegahan serius, seperti tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan," kata peneliti.

Setidaknya, ada empat kasus kekambuhan Covid-19 yang dikonfirmasi. Kasus tersebut ada di Belgia, Belanda, Hong Kong, dan Ekuador. Namun, kasus di Ekuador yang menunjukkan penyakit kedua lebih parah dari sebelumnya.

Kasus kekambuhan Covid-19 pertama di dunia itu terjadi Hong Kong pada Agustus 2020. Para peneliti di departemen mikrobiologi Universitas Hong Kong (HKU) menyatakan, pasien yang tampak muda dan sehat itu mengalami infeksi kedua yang didiagnosis empat setengah bulan setelah episode pertamanya.

Pada infeksi kedua, pasien tidak memiliki gejala dan infeksinya hanya didapat karena tes skrining di bandara Hong Kong. Ternyata infeksi kedua ini disebabkan oleh virus corona yang jenisnya berbeda.

"Kami membutuhkan lebih banyak penelitian untuk memahami berapa lama kekebalan dapat bertahan pada tubuh penyintas Covid-19 dan mengapa beberapa dari kasus infeksi kedua, memperlihatkan keparahan," kata Pandori.

Ia melanjutkan, sejauh ini para peneliti hanya melihat beberapa kasus infeksi ulang, tetapi itu tidak berarti ada banyak kasus seperti itu. "Terutama karena banyak kasus Covid-19 tidak menunjukkan gejala. Saat ini kami hanya dapat berspekulasi tentang penyebab infeksi ulang," tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini