Jomblo Jangan Khawatir, Kamu Bisa Bertemu Jodoh di Mana Saja seperti Kisah Perempuan Ini

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 14 Oktober 2020 08:32 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 14 612 2293285 jomblo-jangan-khawatir-kamu-bisa-bertemu-jodoh-di-mana-saja-seperti-kisah-perempuan-ini-TwTZTTzMap.jpg Menemukan jodoh di Afrika (Foto: Next Shark)

Sebagai perempuan single kadang sering galau memikirkan jodoh ke depan. Namun sejatinya kamu tak perlu galau sebab jodoh sudah diatur oleh Tuhan, sama seperti kisah cinta perempuan ini.

Seorang perempuan asal Taiwan membagikan kisah cintanya hingga tersebar di seluruh dunia. Alhasil kisah cintanya itu berhasil merebut hati lebih dari 53 ribu orang di grup Facebook Subtle Asian Traits.

Perempuan bernama Lucia Lee-Kombe @luleekombe, berbagi ceritanya lewat unggahan tentang keragaman budaya yang menginspirasinya untuk berbicara tentang kisahnya sendiri dalam menemukan cinta di seluruh benua.

 menikah

Lucia menggambarkan pendidikannya yang mengarahkannya ke tempat lain. Ia mengaku awalnya yakin akan tinggal dan bekerja di Asia karena keakrabannya dengan budaya Korea dan Jepang dari studi dan pengalaman mengajarnya.

Ia pun mengikuti program studi luar negeri di Korea selama 2014 dan mengajar di Dazaifu, Fukuoka, Jepang dari 2016 hingga 2018. Tidak yakin tentang jalan kehidupan selanjutnya, Lucia kemudian menemukan buku, dokumenter, dan sumber informasi lainnya tentang Afrika.

Orangtuanya mendorongnya untuk menjadi seorang guru atau memegang pekerjaan pemerintah tetapi hal itu sama sekali tidak menarik perhatiannya saat mencobanya. Dia akhirnya mendaftar untuk mengajar bahasa Inggris dalam perjalanan sukarela selama dua minggu ke Arusha, Tanzania pada tahun 2010.

Ia pun berangkat ke Tanzania sebelum memulai gelar masternya untuk memuaskan rasa ingin tahu tentang benua yang hanya dia baca. Lucia juga mengatakan bahwa ia merasa iseng dan mendaftar untuk tur safari berkemah yang dipandu oleh orang yang kini menjadi suaminya yakni, Sam.

"Mengira dia memiliki pekerjaan terbaik di dunia, dan tampak sangat baik dan berpengetahuan,” terang Lucia, sebagaimana dilansir Next Shark, Rabu (14/10/2020).

Sam terkesan dengan Lucia karena ia menawarkan diri untuk membantunya mendirikan tenda untuk perjalanan tersebut. Mereka akhirnya bertemu sekali lagi secara langsung setelah tur safari di sebuah pub untuk menghibur tim Ghana di Piala Dunia 2010 sebelum dia mengantarnya ke bandara.

“Sejak saat itu, kami hanya berkomunikasi melalui email dan SMS, jadi jarak jauh berlangsung sebentar,” lanjutnya.

Kemudian keduanya jatuh cinta dan akhirnya memutuskan untuk menikah pada 2012 dan menjadi keluarga beranggotakan empat orang. Anak pertamanya lahir empat tahun kemudian, di mana mereka sekarang menyebut Tanzania sebagai rumah.

Mereka merangkul budaya mereka yang beragam melalui musik, makanan, bahasa, dan tradisi. Sebagai satu kesatuan, mereka berusaha menghormati budaya satu sama lain.

Baca juga: Adanya Gunung Api Bawah Laut Dijelaskan dalam Alquran dan Sains

“Saya pikir tetap berpikiran terbuka untuk mempelajari hal-hal baru tentang satu sama lain adalah nilai tambah dalam hubungan apa pun. Kami mencoba untuk terbuka terhadap saran satu sama lain,” sambungnya.

Sam, @dad.fromkili, sekarang bekerja di perusahaan safari miliknya sendiri yang bernama Safari Infinity, dan kamp safari mewah, Nyumbani Collection. Sementara Lucia mengembangkan minatnya untuk membaca, menulis, dan menggambar.

Lucia yang telah menulis dua novel kini telah membagikan karyanya di akun media sosial @llkombe. Kini ia sedang mengerjakan buku di mana putrinya berperan sebagai tokoh protagonis utama yang mewariskan budayanya yang mencakup Kanada, Taiwan, dan Tanzania.

“Saya telah berkomunikasi dengan Sam sejak awal dalam hubungan bahwa saya berharap dia hadir sama seperti saya dalam masa kecil kita. Membaca adalah hal utama bagi saya, jadi kami selalu berusaha untuk bergiliran membacakan buku untuk anak-anak kami setiap hari,” lanjutnya.

Bagi Lucia, setiap orang memiliki cinta, tidak terikat oleh latar belakang atau etnis budaya. Dia bahkan menggambarkan keterkejutannya ketika orang lain melihat pasangan itu bersama-sama dan menggambarkan suaminya sebagai orang berkulit hitam sementara dia hanya melihatnya sebagai sosok seorang Sam.

"Setiap kali, kejutan semacam ini memperkuat keyakinan saya sendiri bahwa saya mencintainya apa adanya, dan bukan untuk hal lain. Saya sangat senang melihat postingan karena telah beresonansi dengan begitu banyak orang yang juga menjalin hubungan antar ras, menghadapi tantangan serupa yang saya hadapi, tetapi memilih untuk bertahan karena cinta saja sejatinya sudah cukup,” tuntasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini