Pandemi Memaksa Anak Dekat dengan Gadget, Hati-Hati Mata Minus

Wilda Fajriah, Jurnalis · Rabu 14 Oktober 2020 21:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 14 612 2293718 pandemi-memaksa-anak-dekat-dengan-gadget-hati-hati-mata-minus-bacukkiUK5.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PANDEMI memaksa kita harus mengerjakan beberapa hal secara online. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak pun harus menghadapi belajar secara online menggunakan gadget.

Memang, kita tidak bisa mencegah anak-anak menggunakan gadget, tapi kita harus bisa mengontrol durasi pemakaian gadget. Karena, memainkan gadget secara berlebihan dalam jangka panjang terbukti mengganggu penglihatan anak-anak.

Memang, dibutuhkan peran aktif para orangtua untuk mengatasinya. Jika tidak, maka anak-anak yang mengalami gangguan penglihatan seperti mata minus akan semakin merebak di berbagai daerah.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Depok dr Su kwanto Gamalyono, MARS mengakui, kasus akibat dampak negatif gadget pada anak cukup banyak. Namun untuk data detail memang belum ada.

Pemakaian gadget secara berlebihan jelas dapat menyebabkan lelah mata yang berdampak penglihatan bisa terganggu (minus). Dampak lainnya adalah peradangan mata.

handphone anak

“Saat ini kita sering lihat anak-anak, bahkan balita yang asyik berkutat dengan smartphone. Bahkan balita yang belum bisa membaca pun sudah hafal bagaimana cara mengakses video favoritnya,” katanya.

Banyak kasus, anak yang saking asyiknya memainkan gadget sampai lupa waktu dan terus-menerus tanpa jeda. Bahkan beberapa anak memainkan gadget dengan posisi dekat dengan mata. “Kebiasaan menatap layar ponsel ternyata punya andil dalam masalah mata, terutama pada anak-anak,” ungkapnya.

Menggunakan smartphone dalam kegiatan sehari-hari dan jarak dekat 30-40 cm akan menyebabkan kontraksi otot cilliaris di dalam bola mata atau yang dikenal dengan istilah akomodasi.

Terjadinya akomodasi berlebihan pada mata akan merangsang timbulnya mata minus. Apalagi anak-anak yang masih dalam usia tumbuh kembang. Kelelahan mata atau asthenopia memiliki keluhan serupa dengan orang dewasa. Bedanya anak-anak sering tidak memahami rasa lelah di mata yang mereka rasakan.

“Jika mata anak sudah berair, tampak lebih merah, sering dikucek, berkedip, atau anak mengeluh pusing, bisa jadi si kecil mengalami kelelahan mata,” jelasnya.

Menggunakan gadget juga dapat menyebabkan sinar biru yang dihasilkan masuk ke dalam bola mata baik retina maupun bagian lainnya. Oleh karenanya ada baiknya anak-anak dikurangi menggunakan gadget agar retina dan bagian dalam mata tidak terganggu fungsinya. Bahkan jika memang belum saatnya anak memegang gadget, ada baiknya jangan pernah diperkenalkan.

“Selain merusak mata, juga berdampak pada daya kognitif si anak. Dia jadi asyik dengan gadget dan kurang interaksi sosialnya,” ungkapnya.

Dia menyarankan, jika memang terpaksa anak memegang gadget, waktu idealnya adalah memberikan jeda 10-15 menit dalam satu jam. Ini bertujuan mencegah matanya lelah akibat akomodasi otot mata yang terpapar. Karena selain dampak yang ditimbulkan jangka pendek, ada juga dampak jangka panjangnya.

Hal yang mungkin kurang disadari, yaitu soal sulitnya anak berkonsentrasi. Ini menurut dia bisa jadi ada pengaruh dari penggunaan gadget berlebihan. Karena mata anak menjadi lelah dan penglihatan menjadi buram, anak akan sering mengeluh pusing saat harus melihat jauh. “Dampaknya anak jadi sulit konsentrasi. Jadi orangtua harus mengawasi penggunaan gadget pada anak agar kesehatan mata anak-anak dapat terjaga dengan baik,” jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini