5 Masalah Psikologis Paling Sering Ditemukan Selama Pandemi, Salah Satunya Bunuh Diri

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 15 Oktober 2020 10:21 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 15 481 2293921 5-masalah-psikologis-paling-sering-ditemukan-selama-pandemi-salah-satunya-bunuh-diri-WF7pINPFEN.jpg Merasa sedih (Foto: Pinterest)

Pandemi Covid-19 yang menyerang dunia memberi dampak psikologis pada masyarakat. Tak sedikit dari masyarakat yang mengalami kesulitan dalam hidup akibat terdampak dari penyakit ini.

Menanggapi hal tersebut Perhimpunan Dokter Spesialis kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dan Ikatan Psikologi Klinis Indonesia (IPK Indonesia) mengadakan penelitian dan menemukan gambaran masalah psikologis yang dialami masyarakat.

Penelitian tersebut meminta masyarakat untuk mengakses Swaperiksa Web PDKSJI. Mereka juga diminta mengakses layanan psikologi klinis selama pandemi Covid-19.

Dari penelitian tersebut ditemukan lima gambaran masalah psikologis masyarakat yang paling sering ditemui selama masa pandemi Covid-19.

 sedih

1. Masalah psikologis

Selama Oktober 2020, jumlah pengisian swaperiksa masyarakat di web PDSKJI berjumlah 5661 buah, berasal dari 31 provinsi dengan temuan 32% mengalami masalah psikologis dan 68% tidak ada masalah psikologis.

2. Gejala cemas

Dari 2606 swaperiksa, sebanyak 67.4% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala cemas. Gejala Kecemasan terbanyak ditemukan pada kelompok usia <30 tahun dengan uraian: sebanyak 75,9% terjadi pada kategori usia <20 tahun; 71,5% pada usia 20-29 tahun; 58,8% pada usia 30-39 tahun; 48,7% pada usia 40-49 tahun; 42% usia 50-59 tahun; dan 47,1% usia >60 tahun.

3. Depresi

Dari 2294 swaperiksa, sebanyak 67,3% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala depresi, di mana 48% dari responden berpikir lebih baik mati atau ingin melukai diri dengan cara apapun. Pikiran kematian terbanyak pada rentang usia 18-29 tahun.

4. Trauma psikologis

Dari 761 swaperiksa, terdapat 74,2% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala trauma psikologis. Gejala Trauma Psikologis terbanyak ditemukan pada kelompok usia <30 tahun, dengan keluhan tersering berupa perasaan waspada terus menerus dan merasa sendirian atau terisolasi dengan uraian: 90,6% terjadi pada kategori usia <20 tahun; 73,4% pada usia 20-29 tahun; 76,5% pada usia 30-39 tahun; 55% pada usia 40-49 tahun; 38,9% pada usia > 50 tahun.

 Baca juga: Viral Seorang Pria Gagal Nikah, Calon Istri Malah Kabur dengan Mantannya

5. Bunuh diri

Dari 110 swaperiksa, 68% yang mengisi Swaperiksa Bunuh Diri memiliki pemikiran tentang bunuh diri dan 5% di antaranya memiliki rencana matang dan telah mengambil tindakan dari hasil swaperiksa yang mengatakan memiliki pemikiran bunuh diri, 66% belum pernah mendapatkan pengobatan.

Ketua Umum PDSKJI DR. dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS,mengatakan untuk menindaklanjuti tingginya presentase swaperiksa yang mengalami gangguan PDSKJI, ia bertekad untuk membuka jangkauan layanan yang lebih luas.

“Caranya dengan mendorong para profesional kesehatan jiwa untuk bergandeng tangan bersama dengan tujuan penemuan dan penalataksaan lebih dini terhadap orang dengan masalah psikologis,” terang dr. Diah dalam webinar Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2020, Rabu (14/10/2020).

Beberapa program strategis PDSKJI dalam penanggulangan kesehatan jiwa meliputi edukasi tenaga profesional kesehatan jiwa, edukasi masyarakat untuk memeriksakan diri, pendampingan jarak jauh, serta akses pelayanan yang mudah dan aman.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini