Waduh, Menstruasi Tak Lancar Berisiko Kematian Dini

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 15 Oktober 2020 11:14 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 15 481 2293945 waduh-menstruasi-tak-lancar-berisiko-kematian-dini-YSygYvcl1g.jpg Menstruasi tak lancar (Foto: Transforming Healthcare)

Perempuan yang mengalami menstruasi tidak lancar setiap bulannya mesti berhati-hati. Pasalnya, kondisi tersebut bukan sekadar gangguan hormonal, tapi tanda serius yang harus diatasi.

Dalam studi terbaru yang diterbitkan di BMJ, terungkap bahwa ada hubungan antara siklus menstruasi yang tidak teratur dengan kematian dini.

Selama periode pelaporan 24 tahun, peneliti Harvard melacak keteraturan menstruasi di antara 79.505 perempuan. Mereka kemudian dikelompokkan berdasarkan usia 14 hingga 17 tahun; 18 sampai 22 tahun; dan 29 hingga 46 tahun.

 menstruasi

Peserta diketahui tidak memiliki riwayat penyakit jantung, kanker, atau diabetes pada awal penelitian. Selain itu, peneliti mengontrol pola makan subjek studi, kebiasaan olahraganya, dan kesehatan mentalnya juga.

Di akhir studi, diketahui bahwa 1.975 perempuan meninggal dunia sebelum usia 70 dengan detail datanya 894 perempuan meninggal karena kanker dan 172 perempuan lainnya mengidap penyakit kardiovaskular. Lebih lanjut, di antara mereka peneliti menemukan menstruasi yang tidak teratur.

Ya, perempuan yang melaporkan menstruasinya tidak teratur (yang ditentukan dengan lamanya 26 hingga 31 hari) di rentang usia 18 hingga 22 tahun, 37 persen di antaranya meninggal di usia muda.

Dalam kelompok usia yang sama, mereka yang menstruasi jaraknya 40 hari, risiko kematian dininya adalah 34 persen lebih tinggi.

Studi ini pun menemukan fakta bahwa ada korelasi antara ketidakaturan menstruasi dengan tingkat kanker di antara kelompok usia 14 hingga 17 tahun dan 18 hingga 22 tahun.

Sementara itu, perempuan yang lebih tua dengan siklus yang tidak teratur cenderung memperlihatkan kasus kardiovaskular yang tinggi.

"Dari semua itu, ternyata menstruasi yang tidak teratur bukan sekadar soal sindrom ovarium polikistik atau kondisi ginekologi atau endokrin lain," kata penulis studi, Dr Jorge E. Chavarro, pada New York Times.

 Baca juga: Viral Seorang Pria Gagal Nikah, Calon Istri Malah Kabur dengan Mantannya

Kesimpulan dari studi ini dikatakan adalah para peneliti mendesak dokter perawatan primer mempertimbangkan karakteristik siklus menstruasi pasien sebagai indikator status kesehatan yang signifikan.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini