Cerita Pilu Pasien Covid-19 Isolasi Mandiri, Tak Bisa Peluk Orangtua

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 17 Oktober 2020 17:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 17 612 2295088 cerita-pilu-pasien-covid-19-isolasi-mandiri-tak-bisa-peluk-orangtua-XGBgo5oQuj.jpg Pandemi virus corona (Foto: Business Standard)

Pasien Covid-19 tanpa gejala atau OTG banyak menjalankan isolasi mandiri di rumah. Keputusan ini mereka pilih karena beberapa alasan, salah satunya bukan dalam kondisi darurat.

Meski masih bisa bertemu dengan anggota keluarga, Rara (nama disamarkan) mengaku mengalami tekanan batin yang luar biasa berat. Bagaimana tidak, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa dia bisa melihat orangtua dan adiknya, tapi tidak bisa berinteraksi bersama.

 terinfeksi virus corona

"Hal yang paling aku sedihin dari situasi aku sekarang, selain tubuh aku sendiri, aku butuh banget pelukan dari orang lain tapi enggak bisa. Aku enggak bisa peluk adik atau orangtua aku karena berisiko menularkan virus," keluh Rara saat berkomunikasi dengan Okezone melalui sambungan telepon belum lama ini.

Ya, Rara tidak bisa menyentuh orang lain. Bahkan, benda yang dia sentuh akan segera disemprot disinfektan oleh ibunya. Ini dilakukan agar tidak ada celah penyebaran virus yang terjadi di rumahnya.

Rara memutuskan untuk isolasi mandiri di rumah karena pada awlanya ia tidak tahu harus kemana. Jadi, usai hasil PCR Test keluar dan menyatakan dirinya positif, pihak puskesmas tempatnya di-swab tidak memberikan arahan lebih lanjut.

Di situ, Rara sempat bingung harus berbuat apa. Dalam situasi itu dia pun memutuskan untuk isolasi mandiri di rumah dengan gejala Covid-19 demam tinggi, saturasi oksigen di bawah 95%, dan lemah jantung.

"Puskesmas enggak memberi saran apa-apa. Nyuru orang di rumah swab sekeluarga saja tidak. Jadi, setelah hasil keluar, aku survive sendiri," cerita Rara.

Menjalani isolasi mandiri di rumah tidak seperti dipikirkan orang-orang. Menurut penuturan Rara, dia memang istirahat total, tapi ada sesuatu yang hilang. Selain tak bisa berpelukan dengan orang tersayang di rumahnya, ia pun merasa 'tidak bisa membantu' di rumah.

Ya, Rara mengaku biasanya dia masak di dapur, nyuci, atau beres-beres rumah, semenjak jadi pasien Covid-19, kerjaannya di kamar saja. Sesekali keluar untuk berjemur dan menghirup udara segar.

Baca juga: Manfaat Jahe saat Musim Hujan, Apa Saja?

"Tapi, ya, emang kebanyakan di dalam kamar saja. Semuanya dilakukan di kamar. Kalau aku lapar, aku biasanya diantar makanan sama adik, selebihnya sendirian lagi. Situasi ini yang bikin aku kayak enggak bisa membantu orang lain," katanya.

Perempuan berusia 27 tahun tersebut menceritakan juga setiap kali dia keluar kamar, ibunya akan segera menyemprotkan tubuh dia dengan disinfektan. "Aku ngerasa kayak hama deh," guyonnya lantas tertawa.

Jadi, sambung Rara, kalau yang bilang isolasi di rumah doang itu enak, faktanya tidak demikian. Anda memang punya banyak waktu untuk istirahat, tapi banyak hal yang berubah dan itu memengaruhi perasaan Rara.

Sesederhana dia hanya bisa komunikasi dengan adiknya via video call ponsel. Cara lain agar Rara bisa terhubung dengan adiknya adalah di balik jendela kamarnya. "Jadi, kalau mau ngobrol sama adik, kita video call-an. Kalau enggak, ngobrol di balik jendela. Sedih banget," ceritanya.

Meski begitu, Rara tetap bersyukur kelurganya sangat support. Segala kebutuhannya mulai dari obat-obatan, multivitamin, dan keperluan dasar lainnya cukup terpenuhi.

Orangtua juga senantiasa menjaga dan membantu penyembuhan dengan dorongan semangat. "Alhamdulillah keluarga aku ngasih dukungan banget dan itu salah satu obat kesembuhan aku," ucap Rara.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini