Waduh Makan di Tempat Umum, Andi Terpapar Covid-19

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 17 Oktober 2020 20:12 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 17 612 2295108 waduh-makan-di-tempat-umum-andi-terpapar-covid-19-C3Cfa594G6.jpg Makan di tempat makan (Foto: Stocksy United)

Tidak ada satu orang pun kebal Covid-19, termasuk Anda yang rajin olahraga dan tidak bepergian ke banyak tempat. Hal ini dibuktikan Andi, penyintas Covid-19.

Bercerita pada Okezone dalam sesi Okezone Stories, Andi menjelaskan kalau dirinya tidak menyangka sama sekali kalau dirinya bisa terpapar Covid-19. Padahal, protokol kesehatan sudah dia jalankan dengan baik, disertai dengan tetap berolahraga.

Tapi, kejadian naas menimpa hidupnya. Kejadian buruk itu terjadi usai dirinya main basket di hari Minggu pada Juli 2020. Usai main basket, Andi melipir ke salah satu restoran yang ada di daerah bandar udara Soekarno Hatta, Tangerang.

Di momen itu, dia makan dengan biasanya. Tentu, masker dilepas saat makan. Dan ternyata itu awal dari virus SARS-CoV2 dia yakini masuk dan menginfeksi tubuhnya.

"Usai main basket dan makan, saya pulang dan sekitar pukul 10 atau 11 malam, badan saya mulai demam. Tapi, saya mikir palingan karena kecapekan saja," ucapnya, Jumat (16/10/2020).

 demam

Esok harinya, panas dingin tidak kunjung membaik dan membuat Andi berinisiasi mengunjungi fasilitas kesehatan. Ia pun menjalani pemeriksaan Rapid Test Covid-19 dan hasilnya non-reaktif. Setelah itu, dokter pun memberikan obat-obatan.

Karena sudah mendapatkan obat, Andi pun berharap obat-obatan tersebut bisa menurunkan demamnya. Benar saja, 4 atau 5 jam usai minum obat, badannya mulai membaik. Tapi beberapa jam kemudian demamnya muncul lagi dan lebih parah.

"Selain demam tinggi, tubuh saya pegel-pegel kayak remuk semua badan. Ini membuat saya sampai susah tidur. Gejala ini terjadi 3 hari (Senin, Selasa, dan Rabu) sehari setelah main basket dan makan di daerah Soetta," paparnya.

Karena kondisi tersebut, Andi pun merasa aneh. "Ada sesuatu dalam tubuh saya nih," pikir Andi. Sebab, pada kondisi biasa, obat-obatan yang diberikan dokter akan langsung memperlihatkan perbaikan hanya dalam 2 hari, tetapi ini 3 hari tidak membaik.

"Terlebih, tiba-tiba dalam satu rumah itu banyak yang sakit. Misalnya istri saya yang saat itu sedang hamil 7 bulan mengeluh flu dan meriang dan orangtua saya pusing dan demam," curhatnya.

Untuk memastikan perasaan tidak enak dalam hati, Andi pun kembali ke rumah sakit pada Kamis dalam kondisi sudah agak membaik, tapi belum merasa fit. Rapid Test Covid-19 lagi dan dinyatakan non-reaktif.

Tapi, pemeriksaan lanjutan ia lakukan. Ya, misalnya saja scan thorax dan PCR Test. "Hasil thorax memperlihatkan ada bercak sedikit dan hasil swab diketahui esok harinya," katanya.

Baca juga: Manfaat Jahe saat Musim Hujan, Apa Saja?

Di hari yang sama, Andi mulai mengalami beberapa gejala khas Covid-19, misalnya indera penciumannya tidak berfungsi dan indera pengecapnya juga tidak berfungsi. "Saya enggak bisa nyium bau dan semua rasa-rasaan, rasanya hambar," ucapnya.

Keesokan hari, hasil PCR Test keluar dan memperlihatkan bahwa hasil Andi positif terinfeksi Covid-19. Setelah mengetahui hasil tes, Andi pun minta dirujuk ke Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat.

Sembari menunggu dipindahkan ke Wisma Atlet, Andi mengabarkan keluarganya soal hasil positif Covid-19 tersebut. Dia pun meminta semua anggota keluarganya untuk swab tes karena ada kekhawatiran virus sudah menyebar.

"Dan benar saja, semua anggota keluarga saya positif Covid-19. Mereka antara lain. istri saya yang sedang hamil 7 bulan, anak saya berusia 8 tahun, orangtua saya (ibu dan bapak), adik saya yang sedang hamil juga, adik ipar, 2 bocah, dan 1 pembantu. Virus itu menyebar hanya dalam waktu 3 hari," papar Andi.

Pria penyuka olahraga basket tersebut pun coba menjelaskan gejala-gejala yang dialami keluarganya. Istri kemampuan indera penciuman hilang dan radang, ayah pusing dan batu, ibu pusing dan demam dikit, selebihnya orang tanpa gejala (OTG).

"Karena semuanya positif Covid-19, saya pun meminta semuanya untuk dirawat di rumah sakit. Jadi, rumah benar-benar kosong. Saya juga enggak mau nanti lingkungan ada omongan gimana, jadi biar semua dirawat di rumah sakit saja," katanya.

Ditanya kenapa bisa yakin kalau terpapar Covid-19 di rumah makan, Andi punya alasannya yang jelas. Pertama, semua teman-temannya yang main basket bersama dia hasil PCR Test-nya negatif Covid-19.

Aktivitas di kantor pun hanya di kantor, tidak keluar-keluar. Di area kantor pun Andi menceritakan kalau dirinya makan siang pun di meja kerjanya. Dan dia pakai masker dan jaga jarak juga dengan karyawan lain.

Tidak hanya itu, ia pun meragukan higienitas alat makan atau juga makanan yang dibuat di restoran. "Karena, kita enggak ada yang bisa menjamin semuanya terjaga kebersihannya. Karena kejadian ini juga, saya tidak makan lagi di restoran. Benar-benar makan dari apa yang dibuat di rumah saja," tuturnya.

Lebih lanjut, kalau soal pengobatan yang dijalani selama proses penyembuhan, Andi mendapat obat-obatan yang disediakan Wisma Atlet. Jumlahnya bisa 8 obat sekali minum.

Setelah itu, dia pun rutin berolahraga dan minum susu murni. Tidak hanya itu, ia pun makan buah-buahan dan menghindari stres. Protokol kesehatan pun tentunya dilakukan di Wisma Atlet.

"Saya menjalani penyembuhan Covid-19 selama 3 minggu lebih 1 hari. Ini terhitung lama, karena saya mengalami stres yang lumayan berat," ungkapnya.

Sebelum menyudahi obrolan, Andi memberi nasihat kepada masyarakat semua yang mungkin masih abadi dengan protokol kesehatan dan menganggap penyakit ini 'settingan' belaka.

"Kalau menurut saya, balik lagi ke masyarakatnya sendiri, kalau kita mengikuti semua saran pemerintah dengan menjalankan protokol kesehatan dan tahu efeknya dari penyakit ini, saya yakin masyarakat bakal sadar. Percuma kita teriak tapi masyarakat emang enggak percaya, ya, enggak akan berubah," kata Andi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini