Siswa Bunuh Diri karena Sekolah Daring, Ini Kata Psikolog

Wilda Fajriah, Jurnalis · Senin 19 Oktober 2020 14:18 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 19 481 2295976 siswa-bunuh-diri-karena-sekolah-daring-ini-kata-psikolog-Gwxi4zIUCC.jpg Ilustrasi siswi mengalami depresi (Foto: Istockphoto)

Seorang siswi berinisial MI yang tinggal di Gowa, Sulawesi Selatan diketahui bunuh diri. MI melakukan bunuh diri dengan meminum racun serangga.

Adapun alasan yang diketahui adalah karena dirinya merasa tidak sanggup lagi menghadapi beban tugas selama melaksanakan sekolah daring. Terlebih, koneksi internet di tempat tinggalnya tidak baik sehingga tugasnya pun sering menumpuk.

 siswi depresi

Menanggapi hal tersebut, psikolog Meity Arianty mengatakan, hal seperti itu tidak bisa menyalahkan pemerintah, guru, keadaan, dan koneksi internet. Karena pada kenyataannya, masih banyak anak diluar sana yang tidak mengambil keputusan bunuh diri walaupun mengalami keluhan yang sama.

"Ini sih kembali lagi pada ketahanan setiap individu. Masalah kesehatan mental, regulasi emosi, serta resiliensi seseorang berbeda. Dan orang yang memiliki peranan membentuk karakter anak adalah orangtuanya," tuturnya ketika dihubungi Okezone.

Bukan bermaksud menyalahkan orangtua, lanjut Mei, namun orang yang paling dekat dengan anak atau remaja itu adalah orangtuanya. Jika kedekatan antar anggota keluarga dan anak terjalin, tentu kasus ini bisa dicegah.

"Karena kasus bunuh diri bukan tiba-tiba. Melainkan adanya akumulasi dan rentetan panjang yang dialami individu tersebut dan dia tidak kuat menanggungnya sendirian," sambungnya.

Ia pun mengatakan, kondisi pembelajaran jarak jauh sudah berlangsung lama. Artinya, sudah banyak yang bisa beradaptasi. Namun, ada juga yang justru makin terbebani.

Baca juga: Gambar Kucing Raksasa Berusia 2.000 Tahun Ditemukan di Nazca Peru

"Saya setuju pemerintah harus mencari cara, tetapi saya mereka sudah berusaha. Jika programnya belum maksimal ya masih sangat wajar. Karena pemerintah tidak bisa bekerja sendirian, sehingga para guru dan orangtua juga harus bekerjasama dalam membimbing anak," pungkasnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini