Ternyata Bekerja Lebih dari 52 Jam Seminggu Bisa Picu Kebotakan

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 21 Oktober 2020 21:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 21 612 2297416 ternyata-bekerja-lebih-dari-52-jam-seminggu-bisa-picu-kebotakan-VPi3Ka0oED.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PSBB mungkin membuat banyak pekerjaan tertunda untuk diselesaikan. Akibatnya, banyak yang memilih untuk lembur agar weekend mereka dengan keluarga tidak terganggu masalah pekerjaan.

Tapi, hati-hati loh jangan sampai lembur terlalu sering. Pasalnya, sebuah penelitian menemukan pria yang bekerja lebih dari 52 jam seminggu lebih mungkin untuk alami masalah kebotakan.

Hasil ini didapatkan setelah peneliti melakukan studi terhadap 13 ribu pria di Korea Selatan dengan rentang usia 20-59 tahun. Para pria yang menjadi peserta penelitian telah diikuti selama empat tahun.

Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Sungkyunkwan kemudian mengelompokkan pria tersebut berdasarkan jumlah jam kerja dan faktor-faktor lain seperti status, pendapatan, serta kebiasaan merokok. Setelah dianalisis, ditemukan ada hubungan yang signifikan antara jam kerja berlebihan atau lembur dengan kebotakan.

lembur

Saat kerja lembur, para pekerja cenderung mengalami stres. Hal itu dapat menyebabkan perubahan hormonal di kulit kepala dan menghambat pertumbuhan folikel rambut. Hasil yang sama pernah diungkapkan oleh penelitian sebelumnya. Dalam penelitian itu dikatakan stres menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut.

Melihat hasil penelitian ini, para ahli mendesak para pemilik perusahaan untuk mempertimbangkan jam kerja yang lebih baik bagi karyawannya. Sebab jam kerja berlebih tak hanya menyebabkan rambut rontok. Tetapi juga serangkaian efek samping negatif lainnya terhadap kesehatan.

"Hasil penelitian ini menunjukkan jam kerja yang panjang secara signifikan terkait dengan peningkatan perkembangan alopecia (kebotakan) pada pekerja pria," ujar penulis utama penelitian, Kyung-Hun Son seperti yang Okezone kutip dari Mirror.

"Batasan jam kerja untuk mencegah perkembangan kebotakan ini mungkin lebih diperlukan bagi pekerja muda yaitu mereka yang berusia 20-an dan 30-an," tambahnya.

Di usia 20-an dan 30-an sekarang ini tanda-tanda kebotakan sudah mulai muncul. Maka menjadi penting untuk melakukan pencegahan.

"Intervensi preventif yang bisa dilakukan adalah mempromosikan jam kerja yang sesuai dan wajar seperti yang dianjurkan," imbuh Kyung-Hun Son.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini