FDA Setujui Remdesivir Jadi Obat Pertama Covid-19 di Dunia

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 23 Oktober 2020 15:46 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 23 481 2298418 fda-setujui-remdesivir-jadi-obat-pertama-covid-19-di-dunia-kEQt6sRd9d.jpg Remdesivir (Foto : Medicaldaily)

Food and Drugs Administration (FDA) telah menyetujui remdesivir sebagai obat untuk mengobati virus corona Covid-19 pada hari Kamis 22 Oktober 2020. Remdesivir menjadi obat pertama dan satu-satunya sejauh ini dan telah menerima persetujuan federal untuk virus corona.

Obat yang dibuat oleh Gilead Sciences, telah diberikan otorisasi penggunaan darurat oleh FDA pada Mei 2020. Tetapi untuk mendapatkan persetujuan FDA secara penuh, pembuat obat harus menyerahkan bukti tambahan untuk mendukung keamanan dan kemanjurannya.

Remdesivir sekarang disetujui untuk pasien berusia di atas 12 tahun yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19. Ini diberikan secara intravena, umumnya selama lima hari.

Remdesivir

Otorisasi penggunaan darurat remdesivir artinya dokter dapat memberikan obat kepada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Tapi mereka harus melalui proses persetujuan yang ekstensif dengan keluarga pasien sebelum melakukannya.

Baca Juga : Waspadalah, Ini 5 Permukaan Benda yang Berisiko Tinggi Terkena Covid-19

Persetujuan yang dikeluarkan oleh FDA kemarin diharapkan dapat merampingkan dan memudahkan proses penggunaan remdesivir bagi para dokter. CEO Gilead, Daniel O'Day, mengaku sangat luar biasa berada di posisi saat ini. Kabarnya Gilead akan menjual obat tersebut dengan merek Veklury.

“Sebab kurang dari satu tahun sejak ditemukan laporan kasus paling awal dari penyakit yang sekarang dikenal sebagai Covid-19, dunia memiliki pengobatan yang disetujui FDA di Amerika Serikat (AS) yang tersedia untuk semua pasien yang membutuhkan,” terang Daniel, melansir dari NBC News, Jumat (23/10/2020).

Remdesivir adalah obat antivirus, artinya obat ini bekerja dengan menurunkan jumlah virus dalam tubuh. Obat tersebut telah terbukti bermanfaat dalam penelitian laboratorium dan hewan. Namun, hal itu belum terbukti berhasil pada manusia.

Uji klinis yang didanai National Institutes of Health menemukan bahwa obat tersebut mengurangi lama rawat inap di antara pasien dengan penyakit sedang sekitar empat hari. Yakni dari 15 menjadi 11 hari.

Remdesivir

Meski demikian remdesivir belum terbukti menurunkan tingkat kematian Covid-19 secara signifikan. Baru-baru ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis data awal yang menunjukkan bahwa obat tersebut tidak bermanfaat bagi pasien Covid-19 yang paling sakit.

Penemuan ini tidak mengejutkan banyak ahli penyakit menular. Mereka mengatakan bahwa antivirus seperti remdesivir biasanya bekerja paling baik jika diberikan lebih awal. Presiden AS, Donald Trump juga menerima obat tersebut ketika dirawat karena Covid-19 bulan ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini