Epidemiolog Imbau Masyarakat Belajar dari 2 Peningkatan Kasus Libur Panjang Sebelumnya

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 23 Oktober 2020 19:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 23 481 2298591 epidemiolog-imbau-masyarakat-belajar-dari-2-peningkatan-kasus-libur-panjang-sebelumnya-sKb6caaP6g.jpg Ilustrasi (Foto : Freepik)

Masyarakat Indonesia bersiap menghadapi libur panjang pada akhir Oktober 2020. Sebagian besar masyarakat sudah merencanakan liburan atau bepergian ke luar kota. Tentunya kondisi ini berpotensi meningkatkan penyebaran virus corona Covid-19 di Tanah Air.

Menanggapi hal ini, Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan masyarakat Indonesia seharusnya bisa belajar dari dua liburan panjang yang telah terjadi selama masa pandemi. Yang pertama adalah peningkatan kasus setelah libur Lebaran dan setelah HUT RI dibarengi dengan Tahun Baru Islam.

“Satu bulan pasca lebaran ada peningkatan yakni pada 23 Mei 2020 yang mulanya di angka 900-an, satu bulan kemudian setelah libur panjang yakni 23 juni menembus angka 1.000-an. Artinya ada peningkatan. Angka peningkatan kematian juga bertambah awalnya 25, sebulan kemudian menjadi 35,” terang Dicky, dalam Live Streaming Okezone “Antisipasi Klaster Libur Panjang”, Jumat (23/10/2020).

Lebih lanjut Dicky menjelaskan kondisi ini juga memunculkan banyak kasus yang tidak terdeteksi dan menimbulkan kematian. Artinya penyebarannya secara silent dan tidak bergejala. Jadi bisa disimpulkan potensi penularan selama liburan sangat besar.

“Karena penyebaran Covid-19 eksponensial, pola penambahan kasusnya semakin banyak. Jadi kasus tak terdeteksinya juga banyak. Ketika 17 Agustus jumalh kasus terinfeksi sekira 1.500-an. Sebulan setelahnya naik hampir 2x lipat yakni sekira 3 ribuan,” lanjutnya.

Baca Juga : FDA Setujui Remdesivir Jadi Obat Pertama Covid-19 di Dunia

Selain itu angka positif di Tanah Air juga masih tinggi. Oleh sebab itu ia menyarankan untuk tetap di rumah saja selama libur panjang, karena situasi ini berpotensi untuk mengalami peningaktan kasus positif Covid-19 semakin besar.

“Setelah libur panjang selalu ada peningkatan kapasitas rumah sakit terutama di kamar isolasi sebesar 78 persen dan ICU sebanyak 85 persen. Padahal standar yang ditetapkan World Health Organization (WHO) itu hanya 60 persen,” tuntasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini