Sejarah Singkat Hari Dokter Nasional dan Terbentuknya IDI

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Sabtu 24 Oktober 2020 11:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 24 481 2298809 sejarah-singkat-hari-dokter-nasional-dan-terbentuknya-idi-mFO6y4NxcF.jpg Ikatan Dokter Indonesia. (Foto: IDI)

HARI Dokter Nasional diperingati setiap 24 Oktober. Tanggal ini juga identik dengan hari jadi Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Sabtu 24 Oktober 2020 menjadi hari yang spesial, sebab IDI sudah genap berusia 70 tahun. Selain itu, 2020 juga menjadi tahun terberat bagi para dokter karena harus mengemban tugas memerangi pandemi virus corona (covid-19).

Baca juga: Terpaksa Bepergian, Ikuti Tips Ini agar Terhindar dari Covid-19 

Dikutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan, kata 'dokter' diambil dari bahasa latin yakni 'docere' yang memiliki arti to lecture atau mengajar. Zaman dulu sebutan dokter digunakan sebagai gelar terhormat selama lebih dari 1.000 tahun di Eropa.

Istilah dokter dalam konteks medis ialah semua profesional medis yang sudah memiliki lisensi untuk praktik dalam seni penyembuhan penyakit. Hari Dokter Nasional sendiri sudah ada sejak 1950 dan menjadi momentum penting dalam sejarah Indonesia berkaitan dengan sejarah Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Asal-usul Hari Dokter Nasional

Organisasi IDI sudah terbentuk jauh sebelum diresmikannya Hari Dokter Nasional. Pada 1911, perkumpulan dokter di Indonesia diberi nama Vereniging van Indische Artsen. Sekira lebih dari 15 tahun berkiprah sebagai tenaga medis, pada 1926 organisasi ini mengalami perubahan nama menjadi Vereniging Van Indonesische Genesjkundigen (VGI).

Pada 1940, VIG mengadakan kongres di Kota Solo, Jawa Tengah. Dalam kongres ini Profesor Bahder Djohan ditugaskan membina dan memikirkan istilah baru dalam dunia kedokteran. Tiga tahun setelahnya yakni pada masa pendudukan Jepang, VIG dibubarkan dan berganti nama menjadi Jawa izi Hooko-Kai.

Dokter. (Foto: Unsplash)

Baca juga: Jelang Libur Panjang, Dokter Tetap Sarankan Anak di Rumah Saja 

Pada 30 Juli 1950, atas usul dr Seni Sastromidjojo, Persatuan Thabib Indonesia (PB Perthabin) dan Perkumpulan Dokter Indonesia (DP-PDI) mengadakan satu pertemuan yang menghasilkan Muktamar Dokter Warga Negara Indonesia (PMDWNI) yang diketuai dr Bahder Djohan.

Puncak pertemuan tersebut berlangsung pada 22–25 September 1950. Muktamar Ikatan Dokter Indonesia (MIDI) digelar di Deca Park yang kemudian diresmikan pada Oktober. Dalam muktamar IDI itu, dr Sarwono Prawirohardjo terpilih menjadi ketua umum pertama IDI.

Dokter sebagai Bagian Sejarah Perjuangan Bangsa

Jauh sebelum terbentuknya IDI, perjuangan para dokter di Tanah Air sudah sangat besar. Tidak heran jika mereka disebut sebagai pejuang kemanusiaan. Nama-nama besar seperti dr Sutomo, Wahidin Sudirohusodo, Tjipto Mangoenkoesomo, dan dokter lainnya tercatat dalam sejarah tidak hanya mengentaskan penyakit namun juga memerangi penjajahan di Indonesia oleh kolonialisme.

Momentum profesi dokter di Indonesia pertama kali lahir lewat keputusan Gubernemen Nomor 22 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Kedokteran di Indonesia (Nederlandsch Indie) pada 2 Januari 1849. Didirikannya sekolah pendidikan dokter di Indonesia disebabkan Pemerintah Hindia Belanda saat itu kewalahan melawan wabah malaria.

Sebanyak 12 siswa diluluskan dan diberi gelar 'Dokter Djawa' setelah menempuh pendidikan selama dua tahun. Meski diberi gelar dokter, lulusan-lulusan dokter hanya dipekerjakan sebagai mantri cacar. Lewat perjalanan panjang, pada 1898, sekolah pendidikan dokter yang sebenarnya didirikan dengan nama STOVIA.

Baca juga: Dokter Reisa: Vaksin Covid-19 Pemerintah Sesuai WHO dan MUI 

STOVIA berhasil mencetak dokter-dokter pejuang kemerdekaan, salah satunya ialah dr Sutomo. Ia bersama Gunawan Mangunkusumo, Cipto Mangunkusumo, dan RT Ario Tirtokusumo mendirikan Boedi Oetomo. Para pendiri Boedi Oetomo merasa bahwa untuk bisa lebih maju maka bidang yang harus menjadi perhatian utama adalah pendidikan dan pengajaran.

Baca juga: Cegah Klaster Libur Panjang, Perlukah Ada Penutupan Wilayah? 

Organisasi ini punya motif sebagai organisasi modern yaitu punya pemimpin, ideologi, dan anggota yang jelas. Motif itu diikuti oleh banyak organisasi lain yang membawa pengaruh kepada perubahan sosial politik.

Dokter pejuang kemerdekaan selanjutnya adalah dr Cipto Mangunkusumo, Douwes Dekker, dan Suwardi Suryaningrat yang merupakan pendiri Indische Partij. Pendirian partai ini bertujuan mempersiapkan kehidupan bangsa Indonesia yang merdeka.

Baca juga: Anak-Anak Butuh Gizi Baik untuk Bertahan di Tengah Pandemi 

Mengusung semboyan Hindia for Hindia yang berarti Indonesia hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang menetap dan bertempat tinggal di Indonesia tanpa terkecuali dan tanpa memandang apa pun jenis bangsanya. Hindia sendiri adalah sebutan Indonesia pada masa pergerakan nasional.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini