Edan, Peneliti Ini Sengaja Membuat Dirinya Terkena Covid-19 untuk Uji Coba

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Sabtu 31 Oktober 2020 12:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 31 481 2301939 edan-peneliti-ini-sengaja-membuat-dirinya-terkena-covid-19-untuk-uji-coba-CStrsvEJAX.jpg Pandemi virus corona (Foto: Oddity Central)

Usai enam bulan tertular virus corona, seorang ahli virus sekaligus peneliti Rusia berusia 69 tahun sengaja membuat dirinya terpapar Covid-19 dari seorang pasien Covid-19. Ia melakukan hal tersebut tanpa perlindungan apa pun dengan tujuan untuk melihat uji coba sistem kekebalan tubuhnya dalam merespon Covid-19.

Mantan peneliti di Vector Center of Virology and Biotechnology di Koltsovo, Novosibirsk, Alexander Chepurnov mengaku pertama kali terkena Covid-19 pada akhir Februari 2020.

 Cherpunov

Kala itu Chepurnov sedang menikmati liburan ski di Prancis ketika mulai merasa tidak enak badan. Ia pun mengalami demam tinggi, nyeri dada dan hilangnya indra penciumannya.

Sayangnya tidak ada cara untuk memperoleh tes virus corona di Eropa pada saat itu. Alhasil ia memutuskan untuk pulang ke Novosibirsk, di mana ia dengan cepat didiagnosis mengalami pneumonia. Untungnya Chepurnov cukup beruntung untuk pulih, dan sebulan kemudian tes antibodi menyatakan bahwa ia telah terinfeksi Covid-19.

Baca juga: Fenomena Bulan Purnama Biru Langka Akan Terjadi Malam Ini

“Saya adalah orang pertama di tim saya yang mengidap Covid-19. Kami mulai mengikuti cara antibodi 'berperilaku', seberapa kuat mereka, dan berapa lama mereka tinggal di dalam tubuh. Pengamatan menunjukkan bahwa mereka cepat menurun. Pada akhir bulan ketiga sejak saya merasa sakit, antibodi tidak lagi terdeteksi,” terang Chepurnov, melansir dari Oddity Central, Sabtu (31/10/2020).

Penemuan itu membuat khawatir Chepurnov, sehingga ia memutuskan untuk menguji untuk melihat bagaimana sistem kekebalannya merespons ketika terpapar Covid-19 untuk kedua kalinya hanya dalam beberapa bulan.

Pria 69 tahun tersebut sengaja bebruat nekat dengan membuatnya terpapar virus corona pasien Covid-19 tanpa perlindungan apa pun.

“Pertahanan tubuh saya turun tepat enam bulan setelah saya terkena infeksi pertama. Tanda pertama adalah sakit tenggorokan. Tes usap PCR nasofaring segera menunjukkan reaksi positif terhadap Covid-19 pada siklus ke-27, dan dua hari kemudian sudah pada siklus ke-17, yang sesuai dengan titer virus yang tinggi,” kata Chepurnov.

Lebih buruknya lagi, serangan kedua Covid-19 lebih parah daripada yang pertama. Alhasil pria berusia 69 tahun itu membutuhkan rawat inap setelah saturasi oksigennya turun di bawah 93 persen. Ia mengalami demam lebih dari 39 derajat Celcius selama lima hari berturut-turut.

Selain itu Chepurnov kembali kehilangan indra penciumannya, persepsi perasa berubah, dan akhirnya X-ray menunjukkan bahwa dia sekali lagi menderita pneumonia ganda. Untungnya penyakit itu sembuh agak cepat, karena setelah dua minggu Chepurnov pulih dan virus corona tidak lagi terdeteksi di nasofaring atau di sampel lain.

Namun, hasil eksperimen yang mengancam nyawanya membuat cemas peneliti Rusia, yang sekarang percaya bahwa tidak akan ada kekebalan kolektif terhadap virus corona.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini