Penelitian Sebut 27% Balita Kelaparan saat Sekolah

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 02 November 2020 16:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 02 481 2302842 penelitian-sebut-27-balita-kelaparan-saat-sekolah-VZGOQ7kSLg.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

KEBUTUHAN gizi balita harus tetap terpenuhi di masa pandemi Covid-19. Hal ini mesti dilakukan guna memutus pemicu rantai risiko kelaparan para balita.

Sayangnya menurut penelitian Foodbank of Indonesia (FOI), sekira 27% balita di Indonesia kelaparan pada pagi hingga siang harinya. Penelitian ini dilakukan pada Agustus di 14 kota.

Disebutkan sebanyak 27% balita pergi ke sekolah karena tidak makan dari pagi sampai siang. Bahkan di daerah padat perkotaan, angkanya mencapai 40%-50%.

Baca Juga: Kesepian Tak Selalu Gangguan Mental, Ini Kata Psikolog 

anak

Founder FOI Hendro Utomo mengungkapkan seharusnya masalah kelaparan pada balita tidak boleh terjadi lagi. Karenanya, edukasi kepada orangtua dan pengasuh sangatlah diperlukan.

"Kita harus mengubah perilaku yang menyebabkan 27% anak-anak balita masih menderita kelaparan," kata Hendro saat webinar bari-baru ini.

Ketika balita kelaparan, ungkap Hendro, masalahnya akan menjadi rumit karena si kecil bisa menderita gizi buruk. Saat masalah ini terlanjur terjadi, risiko gangguan tumbuh kembang anak juga akan terjadi.

Sebelum pandemi Covid-19, Riskesdas 2018 menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 7 juta balita yang mengalami stunting. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara kelima di dunia dengan balita stunting terbanyak.

Hal ini disayangkan oleh Deputi Tumbuh Kembang Anak KPPPA, Lenny N Rosalin. Menurutnya, siapapun harus peduli dengan proses tumbuh kembang 80 juta anak di Indonesia dengan menjaga asupan gizi.

"Kalau dilihat 2 dari 3 anak yang memperoleh ASI eksklusif. Belum semua ibu-ibu menyusui, padahal kalau memberi ASI ekslusif bisa membantu gizi anak," tuturnya.

Agar tidak terjadi masalah kelaparan, edukasi kepada orangtua sangat penting. Lenny menegaskan, lebih baik memberikan makanan sehat kepada anak seperti susu, daging, hingga buah dan sayur, daripada orangtua membeli rokok dan kebutuhan tersier lain.

"Memberikan gizi baik kepada anak tidak ada ruginya, malah bisa meningkatkan produktivitas di masa kelak. Tapi sayang masih banyak orangtua belanja rokok dan barang yang bukan sekunder di dalam keluarga," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini