Anemia Jadi Tantangan Terbesar Masyarakat Dunia

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 02 November 2020 19:27 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 02 481 2302998 anemia-jadi-tantangan-terbesar-masyarakat-dunia-ex70J4ReCT.jpg Ilustrasi

SEKIRA 2,3 miliar orang di dunia menderita anemia. Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2018 menunjukkan adanya peningkatan prevalensi anemia sebesar 38,5% pada kelompok usia 0-59 bulan, 32% peningkatan pada kelompok usia 15-24 tahun, 27,2% pada wanita dan 48,9% pada wanita hamil.

Sebanyak satu dari dua penderita yang mengidap anemia diakibatkan karena defisiensi zat besi (IDA). Alhasil gejala yang sering dialami adalah kelelahan, pusing, pucat, dan gangguan kekebalan tubuh yang memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas.

Negara di Asia Tenggara dan Afrika memiliki tingkat prevalensi anemia tertinggi yang mewakili 85 persen dari kasus yang dilaporkan secara global. Mengingat masalah anemia yang cukup serius, maka diadakan forum berbagi ilmu kedokteran yang diadakan secara virtual di tujuh negara Asia.

Tema yang diangkat kali ini adalah ‘Mengutamakan kesehatan darah melalui diagnosis dini dan pengelolaan defisiensi zat besi dan mikronutrien'. Sesi diskusi dipimpin oleh pembicara internasional yang terdiri dari para ahli terkemuka bidang anemia, kesehatan masyarakat, fisiologi zat besi dan kesehatan gizi.

Virtual forum ini membahas berbagai topik yang luas mengenai diagnosis, komunikasi, dan manajemen defisiensi zat besi dan anemia pada pasien. Topik-topik ini juga dikaitkan dengan pandemi SARs-COV-2 yang saat ini terjadi di seluruh dunia.

 Sekira 2,3 miliar orang di dunia menderita anemia.

Berdasarkan penelitian terbaru yang menyelidiki potensi peran sel darah merah dan homeostasis besi dalam penanganan klinis Covid-19. Forum ini menghadirkan berbagai perkembangan terkait pertimbangan fisiologis dan klinis dalam penerapan manajemen pasien di era new normal.

Robert Harding Inaugural Chair in Global Child Health, Hospital for Sick Children and Co-Director of the SickKids Centre for Global Child Health (Kanada), Prof. Dr. Zulfiqar A. Bhutta mengatakan saat ini terdapat cukup bukti mengenai beban yang ditimbulkan dan epidemiologi mengenai anemia dan defisiensi zat besi.

“Pada anak-anak dan wanita usia subur di berbagai belahan dunia, penanganan secara strategis masih sangat lambat dan berdampak dengan hilangnya sumber daya manusia secara signifikan,” terang Bhutta, dalam siaran pers ‘P&G Blood Health Forum’, Senin (2/11/2020).

Lebih lanjut Prof Bhutta mengatakan tantangan ini diperparah dengan pandemi Covid-19 dan berbagai konsekuensi ekonomi yang terjadi pada saat ini. Oleh sebab itu, deteksi dini anemia secara menyeluruh dan penanganan yang tepat harus menjadi prioritas global.

“Potensi penuh dari beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan terkait nutrisi, kesehatan dan pembelajaran tidak dapat direalisasikan tanpa penanganan anemia akibat defisiensi zat besi dalam skala besar. Terutama di populasi yang terpinggirkan dan sangat miskin di dunia," tuntasnya.

Baca juga: 4 Manfaat Jeruk untuk Kesehatan, Konsumsi saat Musim Hujan Yuk

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini