Awas, Doyan Ngemil Selama Pandemi Bisa Sebabkan Diabetes!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 13 November 2020 13:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 13 481 2308935 awas-doyan-ngemil-selama-pandemi-bisa-sebabkan-diabetes-OlEHb1gJMr.jpg Ilustrasi (Foto : Timesofindia)

Siapa di antara Anda yang selama bekerja di rumah saja jadi doyan ngemil? Jika Anda salah satunya, maka kebiasaan tersebut harus mulai dikurangi, karena ada risiko diabetes yang mengintai.

Ya, diterangkan Dokter Spesialis Gizi Primaya Hospital Tangerang dr Yohan Samudra, SpGK, kebiasaan ngemil itu bisa berakibat buruk pada kesehatan tubuh, salah satunya potensi diabetes. Hal itu terjadi karena camilan seperti jajanan pasar misalnya, kandungan kalorinya tinggi sekali.

Karena itu, sangat disarankan bagi masyarakat untuk membatasi camilan jajanan pasar seperti gorengan, risol, pastel, siomay, pempek, martabak, atau jenis jajanan pasar lainnya yang berbahan dasar tepung. "Karena jajanan pasar tersebut menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko diabetes," katanya pada Okezone melalui keterangan resmi, Jumat (13/11/2020).

Ngemil

Tidak hanya jajanan pasar, camilan kemasan seperti biskuit, wafer, atau krekers juga pada umumnya tinggi kalori dan tinggi gula. Beberapa kukis bahkan kadar kalorinya bisa mencapai 40 kkal dengan kandungan gula hingga 3gram per keping kukis.

Nah, bicara soal kalori, dr Yohan menjelaskan bahwa satu potong kue bisa mencapai 300 kkal. Pada donat atau kue, kadar kalorinya bervariasi mulai dari 200 kkal hingga 350 kkal, tergantung varian rasa.

"Secara khusus, kalau jajanan pasar itu berada di kisaran 150 hingga 250 kkal. Sedangkan, pada makanan utama seperti makanan cepat saji, nasi goreng, atau nasi padang, kadar kalorinya mulai dari 500 kkal hingga 900 kkal," paparnya.

Baca Juga : Kegerahan Nagita Slavina Pakai Kipas Tangan Rp1,9 Juta, Netizen: Anginnya Sedingin AC atau Es?

Lantas, apakah makanan-makanan tersebut tidak boleh dikonsumsi?

Dokter Yohan menjawab, boleh-boleh saja asal terkontrol. Maksdunya, masyarakat perlu memahami kadar kalori dalam makanan atau minuman yang dikonsumsi supaya keseimbangan gizinya tetap terkendali. Jika tidak, ya, risiko diabetes menjadi tinggi.

"Pada kasus camilan, sebaiknya asupan kalori yang dikonsumsi cukup di angka 15-200 kkal. Tentu, total asupan kalori setiap orang berbeda dan harus dihitung per individu. Ini disesuaikan dari tinggi badan, usia, aktivitas fisik, dan faktor stres masing-masing orang," ungkap dr Yohan.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini