Hari Penyakit Paru Obstruktif Kronis, Dokter Minta Lansia di Rumah Saja

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 18 November 2020 16:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 18 481 2311784 hari-penyakit-paru-obstruktif-kronis-dokter-minta-lansia-di-rumah-saja-xUVipLooVj.jpg lansia (Foto: Istock)

Hari Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dunia dirayakan pada pekan ketiga November setiap tahunnya. Bertepatan dengan pandemi Covid-19, masyarakat diimbau untuk semakin berhati-hati dan selalu menjaga kesehatan parunya sejak dini.

Dalam kesempatan ini Dokter Spesialis Paru, PDPI Cabang Jakarta, dr. Budhi Antariksa, Sp.P(K), Ph.D PPOK mengatakan, penyakit paru tak kalah berbahayanya dengan Covid-19. Terlebih penyakit saluran pernapasan yang satu ini sama-sama mengintai masyarakat dengan golongan usia tua.

 lansia

“PPOK tidak demam, yang paling bahaya adalah faktor usianya sama. Semakin tua maka angka mortalitasnya makin tinggi. PPOK sendiri biasanya menyerang usia di atas 50 tahun dan memiliki angka kematian yang tinggi,” terang dr. Budhi dalam Webinar ‘Pejuang Penyakit Paru di Tengah Pandemi Covid-19', Rabu (18/11/2020).

Lebih lanjut dr. Budhi mengatakan, seseorang yang menderita PPOK hanya terbatas sesak dan masalah pada sistem pernapasannya saja. Berbeda halnya dengan Covid-19 yang biasanya disertai oleh banyak gejala seperti batuk, demam, nyeri otot, diare, dan lainnya.

“Jadi kalau untuk orang yang sudah tua (lansia) atau orang yang menderita PPOK lebih baik berdiam di rumah saja. Sebab risiko mereka akan sangat besar sekali apabila terjangkit Covid-19,” lanjutnya.

Dokter Budhi pun mengimbau kepada para lansia khususnya bagi mereka yang sudah mengalami PPOK untuk melakukan aktivitas secara rutin. Aktivitas ini akan berpengaruh terhadap kesehatan sistem pernapasan sehingga dapat memperlambat tingkat kerusakan paru yang dialaminya.

Baca juga: Indahnya Persahabat antara Rakun dan Pensiunan Polisi Gunung

“Selain itu aktivitas juga penting. Kalau kurang aktivitas maka otot pernapasan akan mengecil karena tidak dipakai. Otot tersebut mengecil dan bisa sesak apabila beraktivitas. Nantinya menyebabkan ketergantungan oksigen yang semakin besar,” pungkasnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini