Cegah Risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis pada Lansia, Lakukan Cara Ini

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 19 November 2020 16:59 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 19 481 2312523 cegah-risiko-penyakit-paru-obstruktif-kronis-pada-lansia-lakukan-cara-ini-m0DqiLZ1Fo.jpg Penyakit Paru pada lansia harus dicegah (Foto: Istock)

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) atau biasa disebut COPD adalah penyakit kronik yang menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. Faktor risiko PPOK di Indonesia termasuk tinggi disebabkan oleh prevalensi perokok di Indonesia yang menduduk peringkat tiga besar di dunia.

PPOK tak kalah berbahayanya dengan virus corona Covid-19, terlebih penyakit saluran pernapasan yang satu ini sama-sama mengintai masyarakat dengan golongan usia tua. Biasanya orang yang berusia di atas 50 tahun dan memiliki riwayat sebagai perokok, sangat rentan mengalami PPOK.

 lansia

Dokter Spesialis Paru, PDPI Cabang Jakarta, dr. Budhi Antariksa, Sp.P(K), Ph.D menyarankan, orang lanjut usia (lansia) yang memiliki riwayat penyakit PPOK dan pernah merokok sewaktu muda, sebaiknya melakukan pemeriksaan dengan cara foto toraks atau ronsen paru.

“Dari hasil ronsen seseorang yang mengalami PPOK, akan ditemukan hiperaerasi atau gambaran warna yang lebih hitam karena banyak udara yang terperangkap di dalam paru. Selain itu tanda lain seperti diafragma mendatar, jantung bentuknya memanjang dan menjadi langsing bisa menjadi indikator selanjutnya,” terang dr. Budhi, dalam Webinar ‘Pejuang Penyakit Paru di Tengah Pandemi Covid-19'.

Tak hanya melakukan ronsen paru, ada beberapa pemeriksaan penunjang lainnya yang bisa dilakukan untuk mendeteksi PPOK. Beberapa diantaranya adalah Spirometri (fungsi paru), radiologi, laboratorium darah rutin, analisa gas darah dan mikrobiologi sputum.

Pada kasus tertentu diperlukan peran serta antibiotik bila terjadi eksaserbasi (PPOK semakin memburuk).

Karena penyakit ini sangat serius dan menyumbang angka kematian yang tidak sedikit, dr. Budhi pun mengimbau masyarakat untuk melakukan manajemen PPOK sejak dini. Dengan melakukan manajemen yang baik, maka tingkat keparahan orang yang mengalami PPOK bisa dikurangi.

 Baca juga: Deretan Perusahaan Pengembang Vaksin Covid-19, Apa Saja?

“Tujuannya adalah untuk mengatasi gejala, mencegah progresifitas, meningkatkan toleransi latihan, meningkatkan status kesehatan, mencegah dan mengatasi komplikasi, mencegah dan mengatasi eksaserbasi, serta mengurangi mortaliti,” tuntasnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini