Tekan Kasus Kanker Paru, Turunkan Prevalensi Rokok dan Polusi Udara

Novie Fauziah, Jurnalis · Selasa 24 November 2020 09:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 24 481 2314919 tekan-kasus-kanker-paru-turunkan-prevalensi-rokok-dan-polusi-udara-0FcF8l40vS.jpg Ilustrasi (Foto : Freepik)

Menurut data GLOBOCAN 2018, kanker paru di Indonesia menempati peringkat pertama sebagai kanker paling mematikan yang merenggut sebanyak 26.095 jiwa dari 30.023 kasus yang terdiagnosa di 2018.3

Bahkan selama lima tahun terakhir, kasus kanker paru di Indonesia meningkat sebesar 10,85% sehingga menempatkan Indonesia pada zona serius.

"Salah satu cara untuk menekan prevalensi kanker paru di Indonesia adalah dengan cara mengendalikan dan menurunkan prevalensi rokok serta mengendalikan polusi udara," ujar Ketua Pokja Kanker Paru Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Prof. dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P(K), dalam webinar bertajuk Akses Pengobatan Kanker Paru: Tantangan dan Harapan, Senin (23/11/2020).

Batuk

Ia melanjutkan, berdasarkan penelitian sedikitnya 80-90% kematian akibat kanker paru di dunia disebabkan oleh asap rokok. Namun, selain berbahaya bagi perokok aktif, asap rokok juga merugikan perokok pasif atau second hand smoker.

Hal ini disebabkan asap rokok terdapat kandungan berbagai zat karsinogen dan mengotori udara sedangkan udara juga banyak mengandung zat karsinogen.

Baca Juga : Hari Kanker Sedunia, Berapa Lama Umur Penderita Kanker Paru Stadium 4?

Udara dengan zat polusi itu tersebar di lingkungan. Akibatnya, orang yang tidak merokok berpotensi menghirup zat-zat karsinogen itu dan dapat menimbulkan berbagai penyakit paru.

"Salah satunya kanker paru. Gejala kanker paru sulit dibedakan dengan gejala berbagai penyakit paru lainnya, terutama gejala saluran napas karena tidak khas, bisa dengan gejala batuk lama, batuk darah, sesak napas, atau nyeri dada," terangnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini