Kebiasaan Menatap Layar Gadget di Malam Hari Tingkatkan Risiko Diabetes

Diana Rafikasari, Jurnalis · Selasa 24 November 2020 14:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 24 481 2315224 kebiasaan-menatap-layar-gadget-di-malam-hari-tingkatkan-risiko-diabetes-PLthVWQ0lO.jpg Ilustrasi (Foto: Understood)

Saat di malam hari, mungkin Anda masih memeriksa pekerjaan atau membalas pesan dari teman. Padahal, malam hari merupakan waktu bagi Anda untuk beristirahat.

Kebiasaan menatap layar atau menonton melalui gadget yang memancarkan cahaya biru di malam hari dapat meningkatkan resistensi insulin dan menyebabkan risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 atau memperburuk kondisinya.

Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa paparan cahaya biru yang berasal dari gadget di malam hari dapat meningkatkan rasa lapar dan mengubah metabolisme seseorang.

Penelitian menemukan bahwa paparan cahaya biru dibandingkan dengan paparan cahaya redup dikaitkan dengan peningkatan rasa lapar yang dimulai 15 menit setelah onset cahaya dan bertahan hingga dua jam setelah makan. Tercatat juga bahwa paparan cahaya biru juga menurunkan rasa kantuk dan meningkatkan resistensi insulin.

Dilansir Express, Selasa (24/11) para peneliti menyimpulkan bahwa mereka yang terpapar cahaya biru tingkat tinggi dari laptop, ponsel dan lainnya memiliki glukosa darah yang lebih tinggi dan respons insulin yang lebih sedikit.

Dalam penelitian lain yang diterbitkan di Library of Medicine, paparan cahaya biru dan bagaimana hal itu mengubah fungsi metabolisme pada orang dewasa dengan berat badan normal dianalisis lebih lanjut. Penelitian tersebut mencatat, semakin banyak bukti yang menunjukkan hubungan antara pola paparan terang-gelap, perilaku makan, dan metabolisme.

 Kebiasaan menatap layar atau menonton melalui gadget yang memancarkan cahaya biru di malam hari dapat meningkatkan resistensi insulin.

“19 orang dewasa yang sehat menyelesaikan protokol rawat inap empat hari ini dalam kondisi cahaya redup. Peserta diacak ke paparan cahaya biru selama tiga jam pada hari ketiga mulai 0,5 jam setelah bangun atau 10,5 jam setelah bangun. Semua peserta tetap dalam cahaya redup pada hari kedua untuk menjadi baseline mereka," tulis penelitian tersebut.

Skala lapar dan kantuk dikumpulkan setiap jam. Darah diambil sampelnya pada interval 30 menit selama empat jam terkait dengan periode paparan cahaya untuk glukosa, insulin, kortisol, leptin, dan ghrelin. Kelompok malam, tetapi tidak pada kelompok pagi, memiliki nilai puncak glukosa yang lebih tinggi secara signifikan selama paparan cahaya yang diperkaya biru dibandingkan dengan cahaya redup.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa paparan cahaya biru secara akut mengubah metabolisme glukosa dan rasa kantuk. Hasil ini memberikan dukungan lebih lanjut untuk peran paparan cahaya lingkungan dalam regulasi metabolisme.

Baca juga: Cara Buat Popcorn ala Bioskop di Rumah, Ini Caranya

"Penemuan awal kami menunjukkan bahwa satu malam paparan cahaya selama tidur berdampak akut pada ukuran resistensi insulin. Paparan cahaya semalaman selama tidur telah terbukti mengganggu tidur, tetapi data ini menunjukkan bahwa hal itu juga berpotensi mempengaruhi metabolisme," kata penulis utama Dr Ivy Cheung Mason.

"Hasil ini penting mengingat semakin meluasnya penggunaan paparan cahaya buatan, terutama di malam hari. Efek yang kami lihat sangat akut; diperlukan lebih banyak penelitian untuk menentukan apakah paparan cahaya kronis semalam selama tidur memiliki efek kumulatif jangka panjang pada fungsi metabolisme," lanjutnya.

Studi dan ahli kesehatan terkemuka sekarang memperingatkan bahwa satu malam paparan cahaya selama tidur berdampak akut pada ukuran resistensi insulin. Resistensi insulin adalah berkurangnya kemampuan sel untuk merespons tindakan insulin yang mengangkut glukosa keluar dari aliran darah dan mendahului perkembangan diabetes tipe 2.

"Resistensi insulin adalah ciri utama dari diabetes tipe 2 dan ini menjadi masalah karena memengaruhi tubuh dalam berbagai cara," jelas Diabetes.co.uk.

Website tersebut menambahkan, resistensi terhadap insulin menyebabkan tubuh memproduksi lebih banyak insulin yang menyebabkan peningkatan rasa lapar, tekanan darah tinggi, dan penambahan berat badan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini