Cha Ruoi, Omelet Warga Vietnam dengan Bahan Baku Cacing

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 01 Desember 2020 05:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 30 298 2318613 cha-ruoi-omelet-warga-vietnam-dengan-bahan-baku-cacing-yZFPHHljCG.jpg Omelet Vietnam (Foto : Odditycentral)

Cha Ruoi atau telur dadar cacing pasir, adalah hidangan musiman Vietnam yang dibuat dengan cacing laut sepanjang dua inci. Sekilas omelet ini memang tidak sedap dipandang mata, namun banyak yang menyebut bahwa hidangan ini memiliki kelezatan rasa yang sama seperti kaviar.

Setiap tahun, pada akhir musim gugur, warung-warung jajanan di Vietnam utara, khususnya di Hanoi, menyajikan hidangan yang sangat istimewa. Ketika sudah matang, sekilas terlihat sangat biasa. Tetapi sebenarnya makanan ini mengandung bahan yang sangat khas.

Cha ruoi terlihat seperti hidangan telur matang yang dicampur dengan berbagai bumbu, tetapi teksturnya yang seperti daging dan rasa seafoodnya berasal dari cacing pasir. Telur kocok, kulit jeruk keprok, bawang bombay, adas manis dan rempah-rempah menjadi bahan lain sebelum ditambahkan cacing laut sepanjang dua inci.

Cacing

Hasil dari bahan makanan tersebut adalah telur dadar yang tampak tebal. Selain itu makanan ini juga tidak bisa didapatkan oleh para penggemar di bulan-bulan menjelang musim dingin. Sebagaimana dilansir Oddity Central, Selasa (1/12/2020), Cacing pasir atau palolo bukanlah hewan aneh di Vietnam.

Hewan ini dapat ditemukan di sepanjang pantai di banyak negara yang berbatasan dengan Samudra Pasifik, termasuk China, Jepang, Indonesia, atau Samoa. Selain cha ruoi, cacing pasir digoreng dan disajikan dengan roti panggang, dipanggang menjadi roti atau bahkan dimakan hidup-hidup.

Namun ada fakta menarik, sebab masyarakat hanya mengonsumsi hewan ini selama satu atau dua bulan dalam setahun. Semuanya ada hubungannya dengan kebiasaan kawin makhluk laut itu. Secara teknis, hanya sebagian ulat palolo yang dipanen untuk dikonsumsi.

Cacing pasir Palolo berkembang biak secara epitoky, suatu proses cacing mulai menumbuhkan segmen khusus dari belakang. Pertumbuhan tersebut terus berlanjut hingga cacing dapat dengan jelas terbagi menjadi dua bagian.

Omelet

Bagian belakang ini berisi telur dan sperma, dan ketika waktunya untuk kawin, biasanya selama bulan kesembilan dan ke-10 dari kalender lunar, mereka terlepas dari cacing dan naik ke permukaan, membentuk kawanan yang besar dan merayap.

Baca Juga : 4 Resep Omelet Favorit untuk Sarapan Pagi yang Sehat

Cacing pasir terus hidup di dasar laut, dan bisa mengalami epitoky beberapa kali dalam setahun. Karena manusia hanya memanen beberapa segmen reproduksi yang terapung-apung ini, populasi cacing pasir tidak akan terpengaruh.

Berabad-abad yang lalu, para nelayan dan petani tidak tahu kapan kumpulan cacing yang merayap akan muncul ke permukaan. Alhasil mereka hanya mengandalkan keberuntungan. Orang-orang akan melompat ke dalam air dan menangkap cacing sebanyak mungkin dengan menggunakan jaring atau tangan kosong.

Namun saat ini, para petani di Vietnam sudah mulai mengisi danau dan sawah mereka dengan cacing sebab mereka juga dapat hidup di lumpur. Saat cacing muncul pada hari-hari tertentu dalam kalender lunar, mereka hanya mengeringkan danau untuk memanen bahan makanan yang berharga itu.

Tetapi karena ulat pasir telah menjadi sumber daya yang berharga baik di Vietnam dan China, para petani tidak lagi mengkonsumsinya. Mereka lebih memilih menjualnya untuk mendapatkan keuntungan.

Omelet

Sebelum ditambahkan ke telur dadar chả rươi, cacing pasir harus direbus dahulu untuk menghilangkan tentakel dan bau amisnya. Bau amis itu juga akan dibasmi oleh kulit jeruk keprok yang segar dan semua herba.

Namun, rasa cacing pasir bisa jadi terlalu berlebihan bagi sebagian orang. Alhasil lama kelamaan versi chả rươi baru muncul, yang mengandung lebih banyak daging babi daripada cacing. Tetapi untuk penggemar sejati, versi asli yang lebih mahal adalah satu-satunya pilihan terbaik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini