Januari Mulai Sekolah Tatap Muka, Ini Tanggapan IDAI

Novie Fauziah, Jurnalis · Selasa 01 Desember 2020 17:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 01 481 2319712 januari-mulai-sekolah-tatap-muka-ini-tanggapan-idai-SLzKqi4iC5.jpg Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)

Selama pandemi yang sudah berlangsung hampir satu tahun ini, membuat pelaksanaan kegiatan belajar dari rumah saja. Hal ini memgingat jumlah kasus konfirmasi Covid 19 di Indonesia masih terus meningkat. Pada Januari 2021 mendatang akan dilaksanakan kembali sekolah tatap muka.

Ketua umum pengurus pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR. Dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCP(Hon) mengatakan, pembukaan sekolah untuk kegiatan belajar mengajar tatap muka mengandung risiko tinggi, khawatir akan terjadinya lonjakan kasus Covid- 19.

"Karena anak masih berada dalam masa pembentukan berbagai perilaku hidup yang baik agar menjadi kebiasaan rutin di kemudian hari, termasuk dalam menerapkan perilaku hidup bersih sehat. Ketika protokol kesehatan dilanggar, baik sengaja maupun tidak, maka risiko penularan infeksi COVID 19 akan meningkat sangat tinggi," katanya dalam keterangan resminya, Selasa (1/12/2020).

Anak Pakai Masker

Baca Juga : Siswa Positif Covid, Sekolah Tatap Muka Dikaji Lagi

Lebih lanjut, di beberapa negara banyak yang terjadi lonjakan Covid-19. Sebab semua warga sekolah, termasuk guru dan staf, dan juga masyarakat memiliki risiko yang sama untuk tertular dan menularkan covid-19.

"Sehubungan dengan rencana dimulainya transisi pembelajaran tatap muka pada bulan Januari 2021, maka Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI} memandang perlu untuk menyampaikan pendapat," terangnya.

Pendapat yang dikemukakan antara lain sebagai berikut:

1. Upaya bersama yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan anak Indonesia perlu terus diperjuangkan, baik melalui pembelajaran catap muka maupun saat belajar dari rumah.

2. Seluruh pemangku kepentingan, baik orangtua, masyarakat, maupun pemerintah, berkewajiban memenuhi Hak Anak sesuai dengan Konvensi Hak Anak Tahun 1990 yaitu hak untuk hidup, hak untuk bertumbuh dan berkembang dengan baik, serta hak untuk mendapatkan perlindungan.

Pemenuhan kebutuhan kesehatan dasar anak seperti nutrisi lengkap seimbang, imunisasi lengkap sesuai usia, kasih sayang, stimulasi perkembangan, keseimbangan aktivitas fisik dan tidur, serta perlindungan dari berbagai risiko gangguan keselamatan dan tumbuh kembang dimulai dari lingkungan rumah dan keluarga.

Masker

Kemudian, orangtua dan anggota keluarga dewasa di rumah diharapkan dapat memeriksa apakah kebutuhan anak telah terpenuhi dan mencari bantuan untuk memenuhi kebutuhan tersebut ke fasilitas layanan terdekat.

3. Pendidikan disiplin hidup bersih sehat serta penerapan protokol kesehatan dimulai dari rumah sebagai lingkungan terdekat anak, terlepas dari apakah anak menghadiri kegiatan

belajar tatap muka atau tidak. Orangtua dan anggota keluarga dewasa diharapkan mulai memperkenalkan 3M; kebiasaan cuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak sejak dini.

Pengenalan kebiasaan mencuci tangan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana memberi contoh secara rutin dan membersihkan tangan bayi sejak usia mulai MPAS, lalu ditingkatkan secara bertahap.

Pemakaian masker dengan cara yang benar dapat mulai dikenalkan sejak usia 2 tahun, dengan durasi semampu anak, kemudian ditingkatkan secara bertahap. Ketika anak belum mampu hendaknya tidak dimarahi, melainkan diberi apresiasi ketika ia mampu melakukan dengan benar, serta terus diberikan contoh, kesempatan, dan bimbingan secara berulang ulang hingga lancar dan menjadi kebiasaan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini