Sejarah Sayur Lodeh yang Hindarkan Warga Yogyakarta dari Wabah

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 02 Desember 2020 21:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 02 298 2320524 sejarah-sayur-lodeh-yang-hindarkan-warga-yogyakarta-dari-wabah-FDCVu8TcEp.jpg Sayur lodeh (Foto : Asianinspiration)

Sayur lodeh yang menjadi makanan khas Indonesia ternyata memiliki sejarah menarik di dalamnya. Menurut legenda, ketika wabah melanda Kota Yogyakarta, Jawa Tengah, sultan Hamengkubuwono memerintahkan warganya untuk memasak sayur lodeh dan tinggal di rumah selama 49 hari. Terbukti wabah tersebut pun berakhir, sehingga tradisi tersebut mulai berlanjut hingga hari ini.

Sebagaimana diketahui, sayur lodeh adalah kari sayur sederhana yang terbuat dari tujuh bahan utama dan dasar santan pedas. Ahli gizi telah mempelajari hidangan tersebut menunjukkan manfaat kesehatan bagi tumbuh seperti lengkuas, yang dianggap memiliki kemampuan anti-inflamasi. Para ahli menduga bahwa sayur lodeh sangat cocok untuk masa karantina.

Sayur Lodeh

(Foto : BBC)

Namun yang terpenting dari perintah sultan untuk memasak sayur lodeh adalah daya tariknya untuk solidaritas sosial. Arsitek, Guru dan Murid Sejarah Jawa, Revianto Budi Santoso, mengatakan seluruh kota yang saat itu memasak hal yang sama pada bersamaan, menciptakan rasa kebersamaan yang kuat.

“Seperti banyak aspek kepercayaan Jawa, tujuannya adalah untuk menghindari kemalangan. Menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan lebih diprioritaskan daripada pencapaian sesuatu secara individu. Orang Jawa berpikir bahwa jika tidak ada rintangan, hidup akan mengurus dirinya sendiri,” terang Santoso, sebagaimana dilansir dari BBC, Rabu (2/12/2020).

Baca Juga : Resep Sayur Lodeh yang Dipercaya Bisa Usir Wabah Penyakit

Makanan Jawa secara keseluruhan kaya akan simbolisme. Sayur lodeh memperluas simbolisme ini secara linguistik dan numerologis. Dari tujuh bahan utama yang ditambahkan ke dasar santan seperti melinjo (buah seperti zaitun), daun melinjo, labu siam (sejenis labu), kacang panjang, terong, nangka dan tempe memiliki makna simbolis bahwa diturunkan dari bunyi suku katanya.

Dalam bahasa Jawa, wungu dari terong wungu memiliki arti ungu, tetapi juga memiliki arti terbangun. Sementara lanjar (kacang lanjar) diartikan dengan berkah. Kumpulkan ketujuh bahan masakan ini memiliki sesuatu yang menyerupai mantra. Ritual memasak sayur lodeh ciri utama budaya Jawa.

Sayur Lodeh

Salah satu ciri mencolok dari slametan yang merupakan sejenis ritual komunal adalah fatalismenya. Santoso menilai bahwa sayur lodeh tidak bersifat individual.

“Ini adalah tanggapan atas kemalangan yang sepertinya akan mengalahkan semua orang. Ini adalah upaya untuk mengurangi, sebanyak menghindari, sesuatu yang mungkin tak terhindarkan,” lanjutnya.

Yang menarik dari kisah sayur lodeh adalah saat pembuatannya. Memang tidak ada hal yang berbeda dari alat masak serta bahan makanan yang hendak digunakan. Masyarakat akan memasukkan semua bahan makanan ke dalam panci, lalu menaruhnya di atas api.

Di masa lalu, memasak sayur lodeh akan dimulai setelah dua pusaka kerajaan yang berupa tombak dan bendera suci yang konon terbuat dari bahan yang diambil dari makam Nabi Muhammad diarak di jalan-jalan. Selain keunikan tersebut, sayur lodeh lebih seperti makanan biasa.

Sayur lodeh mudah dibuat, tetapi asal-usulnya sangat rumit. Beberapa ahli percaya bahwa tradisi tersebut berasal dari masa kejayaan peradaban Jawa Tengah di abad ke-10. Di mana lodeh memungkinkan penduduk untuk berlindung dengan aman selama letusan dahsyat Gunung Merapi pada 1006.

Sejarawan makanan Fadly Rahman memperkirakan sayur lodeh pada abad ke-16 setelah Bahasa Spanyol dan Portugis memperkenalkan kacang panjang ke Jawa. Sementara sejarawan lainnya berpendapat bahwa ini adalah tradisi kuno yang ditemukan pada abad ke-19. Pada pergantian abad ke-20, para intelektual Yogyakarta berada di jantung Kebangkitan Nasional Indonesia.

Pada periode itu banyak mitos nasional ditemukan dan dirayakan serta diciptakan. Contoh paling terkenal yakni pada 1931 ketika masa pemerintahan Sultan HB VIII, Jawa telah menderita gelombang wabah pes selama lebih dari dua dekade. Namun catatan juga menunjukkan bahwa sayur lodeh dimasak untuk menanggapi krisis pada 1876, 1892, 1946, 1948, dan 1951.

Sayur Lodeh

(Foto : Asianinspiration)

Yang semakin rumit, sayur lodeh semakin populer di seluruh Nusantara. Dengan cepat menjadi sulit untuk mengisolasi mengapa, kapan dan bagaimana hidangan itu berevolusi. Meski demikian, Sejarawan Makanan, Khir Johari merasa anggapan seperti ini kurang relevan.

“Saat kita melihat sejarah makanan, godaannya adalah mencoba dan menggabungkan titik-titik sehingga Anda berakhir dengan cerita yang monosentris. Tetapi mungkin ada banyak pusat penciptaan. Komunitas Peranakan Tionghoa di Singapura menyajikan sayur lodeh sebagai semur sayur kuning yang dimakan dengan lontong. Sedangkan orang Jawa Singapura membuat lodeh putih tanpa kunyit,” terangnya.

Menurut Johari, transformasi sayur lodeh disebarkan melalui tambal sulam budaya Nusantara yang menggambarkan interaksi antara pangan, adat istiadat, dan lingkungan. Sementara lahan pertanian subur di sekitar Yogyakarta memasok sayuran yang memungkinkan penduduk desa menghadapi wabah penyakit dan letusan gunung berapi.

Lama kelamaan hidangan ini terus berkembang. Anda akan menemukan sayur lodeh di banyak kota di Asia Tenggara sebagai makanan kesehatan. Ini juga menjadi hidangan warisan yang menarik perhatian yang berkembang pesat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini