Waspada, Diabetes Komorbid yang Picu Kematian Pasien Covid-19

Hambali, Jurnalis · Rabu 02 Desember 2020 07:49 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 02 481 2319933 waspada-diabetes-komorbid-yang-picu-kematian-pasien-covid-19-7OBxD30XyQ.jpg Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)

Penyakit diabetes masih menjadi salah satu penyakit komorbid atau penyerta yang paling sering ditemukan pada pasien Covid-19. Bahkan dari data yang ada menyebutkan, komorbid diabetes menjadi kasus tertinggi dalam penyumbang angka kematian pengidap Covid-19.

Di Indonesia sendiri, terdapat sekira 10,7 juta jiwa yang hidup dengan diabetes. Hal itu membuat Indonesia menempati posisi ke-7 di dunia sebagai negara dengan penderita diabetes terbanyak. Angka tersebut belum ditambahkan dengan penderita pra-diabetes di Tanah Air yang jumlahnya mencapai 29,1 juta jiwa.

Namun yang jadi ironis, dari jumlah itu semua baru sekira 2 persen yang sudah terdiagnosis oleh dokter dan melakukan pengobatan. Padahal jika disepelekan sejak awal, maka diabetes bisa menimbulkan komplikasi yang lebih luas. Terlebih di masa pandemi, pengidap diabetes kian sulit ditangani jika terpapar Covid-19.

Cek Gula

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Imbar Umar Ghazali, menerangkan, banyak pasien Covid yang meninggal dunia akibat memiliki komorbid diabetes dan hipertensi. Sebab, imunitas pada penderita diabetes dan hipertensi tidak bisa ditingkatkan dengan cepat.

"Yang jelas imunitas penderita diabetes dan hipertensi itu tidak bisa ditingkatkan dengan cepat," katanya kepada Okezone, Selasa 1 Desember 2020.

Baca Juga : Januari Mulai Sekolah Tatap Muka, Ini Tanggapan IDAI

Dijelaskan Imbar, penanganan pasien Covid harus menggunakan ruangan isolasi bertekanan negatif. Termasuk mereka yang memiliki komorbid diabetes. Lalu apabila saturasinya turun dari 95, maka bersiap diisolasi ditangani di ruangan Hight Care Unit (HCU). Berikutnya apabila saturasi turun lagi dari 80, maka dipindah ke ruangan Intensive Care Unit (ICU).

"Kalau dia tidak ada masalah dengan pernafasan, berarti di ruang keempat, ruang perawatan dengan tekanan negatif. Dia disitu Covid beserta penyakit tambahannya," jelasnya.

Oleh karenanya, pasien yang memiliki riwayat diabetes membutuhkan penanganan kompleks. Di mana mulai dari tahap promotif, preventif, diagnosa, terapi atau kuratif hingga pada tindakan rehabilitatif. Semua itu kini telah terpenuhi dalam Pusat Layanan Diabetes Terintegrasi.

"Bagi pasien diabetes, pemeriksaan gula darah saja tidak cukup. Kesehatan jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf juga harus diperhatikan karena jika tidak terkontrol maka akan menimbulkan komplikasi," terang Chairman Diabetes Connection Care Eka Hospital BSD, Sidartawan Soegondo.

Cek Gula

Pelayanan Diabetes Connection Care akan mumpuni karena diisi tim dokter spesialis yang terdiri dari multi-disiplin ilmu, seperti endokrinologis, kardiologis, neurologis, nefrologis, dan spesialis lainnya yang secara profesional akan bekerja sama.

"Atas dasar itulah kami menghadirkan pusat layanan diabetes yang terdiri dari tim dokter multi-disiplin dan bekerjasama menangani diabetes secara komprehensif," tambahnya.

Pusat layanan diabetes di Eka Hospital itu sendiri menjadi yang pertama ada di rumah sakit swasta di Indonesia. Dengan begitu, pasien dengan masalah diabetes bisa mendapatkan penanganan dan tindakan secara komprehensif secara berkala tanpa rasa khawatir berlebihan di masa pandemi saat ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini