12 Cara Mencegah Klaster Libur Panjang

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 02 Desember 2020 11:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 02 481 2320096 12-cara-mencegah-klaster-libur-panjang-6aYYUibHQI.jpg Liburan bersama keluarga (Foto: Singapore Motherhood)

Libur panjang Natal dan Tahun baru sudah di depan mata. Alhasil sebagian besar masyarakat Indonesia bersiap untuk merayakan liburan.

Meski demikian, liburan 2020 tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, sebab seluruh dunia sedang menghadapi pandemi virus corona Covid-19 yang belum kunjung berakhir.

 liburan

Oleh sebab itu protokol kesehatan saat hendak liburan atau bepergian perlu diterapkan untuk mencegah terjadinya klaster libur panjang seperti pada masa liburan sebelumnya. Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, masyarakat harus selalu waspada dan menerapakan protokol kesehatan untuk mencegah semakin maraknya penularan Covid-19.

Sebab pada dua libur panjang sebelumnya yakni saat lebaran dan 17 Agustus terjadi peningkatan kasus yang cukup signifikan di Indonesia. Bahkan usai liburan panjang akhir pekan pada Oktober, grafik kasus positif baru Covid-19 di Indonesia meningkat dan mencatat lebih dari 6 ribu kasus per harinya.

Dalam kesempatan ini Dicky pun membagikan beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah munculnya klaster libur panjang akibat Covid-19. Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah:

1. Harus ada dukungan dari para kepala daerah masing-masing untuk mencapai tujuan bersama. Artinya kepala daerah harus berdiskusi untuk meminimalisir mobilisasi dan membatasi interaksi masyarakat selama libur panjang. Ini harus dibuat regulasi untuk bisa meredam hal tersebut.

2. Melakukan Tracing, Testing, Treatment (3T) secara kontinyu dan jangan dikaitkan pada saat orang mau pergi. Tujuannya agar dapat berjalan dengan efektif.

3. Berlibur di zonanya sendiri. Artinya tidak keluar dari daerah kota mereka berasal sebab kondisi Covid-19 di Indonesia masih belum terkendali. Misalnya kalau tinggal di Bandung, liburnya dibatasi di Bandung saja dan jangan keluar dari daerah tersebut.

4. Menerapkan sistem yang ketat seperti apa yang dilakukan oleh Australia. Pemerintah Australia sangat membatasi mobilisasi masyarakatnya. Mereka hanya diperbolehkan bepergian sejauh 25 kilometer dari tempat tinggal.

5. Menggunakan alat pembayaran berupa card seperti E-money selama pandemi dan tidak boleh melakukan pembayaran secara tunai.

6. Jika sudah terlanjur beli tiket dan memang harus bepergian. Pastikan pergi dan pulang menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan yang tidak bercampur dengan orang lain. Misalkan travel atau taksi online dan lain-lain.

7. Tidak membawa orang lanjut usia (lansia), bayi dan ibu hamil bepergian. Anak muda relatif tidak berisiko terkena Covid-19, meski demikian anak muda dengan gejala juga harus dijaga supaya jangan bepergian.

8. Pihak pengelola tempat wisata harus bersikap suportif dalam upaya mengurangi penyebaran Covid-19. Tempat wisata harus memiliki klausul kalau ada pembatalan dari pengunjung apabila mereka mendadak tidak jadi pergi ke tempat tersebut. Misal jaminan uang kembali atau ganti hari. Ini berlaku juga bagi tiket bioskop.

9. Pemerintah daerah harus menyampaikan pesan ke setiap tempat wisata untuk memberitahu daerah dengan tingkat risiko penularan Covid-19.

10. Tempat hiburan seperti bioskop yang memiliki banyak teater, dianjurkan tidak dibuka sekaligus namun bergantian dan diberi jeda selama beberapa menit. Tujuannya adalah agar tidak terjadi antrian dan kerumunan.

11. Pemilik usaha bioskop harus memastikan pengunjung yang menonton di tempat itu harus orang yang daerah situ juga.

Baca juga: Wajib Dijalani, 5 Tips Aman Tidak Terpapar Covid-19 saat Libur Akhir Tahun

12. Pengelola bioskop untuk memastikan terlebih dahulu identitas pengunjung yang membeli tiket. Bioskop sebaiknya melayani pembelian tiket di mana pengunjung diwajibkan menonton tepat di hari yang sama dan dilarang booking untuk hari lain.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini