Virus Corona Covid-19 Berasal dari Amerika?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 02 Desember 2020 12:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 02 481 2320159 virus-corona-covid-19-berasal-dari-amerika-sfUHousdst.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

VIRUS Corona Covid-19 memang diketahui berasal dari China. Tapi, sebuah penelitian terbaru mengungkap fakta lain. Negara awal tempat berkembangnya virus corona bukanlah China, melainkan Amerika Serikat (AS).

Centers for Disease Control and Prevention atau yang lebih dikenal dengan CDC menyebut, virus Corona Covid-19 telah beredar di Amerika beberapa minggu tanpa terdeteksi sebelum kasus pertama dilaporkan pada tahun 2020.

Dalam laporan yang diterbitkan di Jurnal Infeksi Klinis, CDC menemukan bukti bahwa antibodi virus corona dalam darah yang dikumpulkan pada Desember 2019, virus tersebut ada di Amerika sebelum di China terjadi outbreak.

Para peneliti menganalisis donor darah yang dikumpulkan oleh Palang Merah Amerika dari penduduk di sembilan negara bagian, antara 13 Desember dan 17 Januari dan menemukan bukti antibodi di 106 dari 7.389 sampel.

Antibodi juga ditemukan dalam 67 donor darah pada bulan Januari dari negara bagian yang tidak melaporkan wabah yang meluas pada saat itu, seperti Connecticut, Iowa, Massachusetts, Michigan, Rhode Island, dan Wisconsin.

Menurut situs CDC, pasien COVID-19 pertama didiagnosis pada 20 Januari di negara bagian Washington. Namun, para peneliti menemukan antibodi dalam sampel darah sejak 13 Desember.

“Mungkin saja kita memiliki tingkat prevalensi yang rendah sebelumnya, dan itu tidak terlalu mengejutkan,” kata Gigi Gronvall, seorang sarjana senior di Johns Hopkins Center for Health Security seperti dilansir dari USA Today.

Para ahli mengatakan virus corona bisa saja berada di AS sebelum kasus pertama tercatat pada Januari, tetapi tes serologis juga mungkin telah mengambil jenis yang berbeda atas virus corona yang berbeda sama sekali.

Antibodi adalah cara tubuh mengingat bagaimana ia merespons suatu infeksi sehingga dapat menyerang kembali jika terpapar patogen yang sama. Adanya antibodi dalam darah seseorang yang unik untuk virus corona menunjukkan bahwa mereka mungkin telah terinfeksi dan pulih.

Namun, antibodi untuk SARS-CoV-2 terlihat sangat mirip dengan antibodi coronavirus lain yang menyebabkan penyakit, seperti flu biasa. Tes dapat secara keliru mengidentifikasi antibodi sebagai penyebab virus korona yang menyebabkan COVID-19, menghasilkan positif palsu.

Para kritikus pun berargumen bahwa kesalahan tersebut terjadi dalam studi CDC, karena tingkat salah satu antibodi, Immunoglobin M (IgM), rendah untuk sampel yang terdeteksi pada bulan Desember. Antibodi lain yang terdeteksi, Immunoglobin G (IgG), bertahan lebih lama di dalam tubuh dan terdeteksi di tingkat yang lebih tinggi tetapi kurang spesifik untuk virus.

“Bahkan sebagian kecil dari ketidakakuratan dapat membuat perbedaan saat Anda membicarakan tentang angka-angka kecil ini,” kata kata salah satu kritikus, Gronvall.

Penulis penelitian mengatakan, mereka memperhitungkan keterbatasan ini dengan menggunakan cara yang sangat spesifik untuk mendeteksi dua antibodi spesifik virus yang disebut microneutralization, karenanya positif palsu masih mungkin. Positif benar hanya dapat dikonfirmasi dengan tes diagnostik.

Sementara penelitian lebih lanjut diperlukan, para ahli mengatakan penelitian tersebut menyoroti pentingnya menggunakan pengujian serologis untuk tujuan pengawasan guna memberikan gambaran yang akurat tentang bagaimana dan di mana virus menyebar.

"Mengetahui berapa banyak penduduk yang telah mengidapnya, tren dari waktu ke waktu. Ini mampu memberikan perawatan dan sumber daya langsung. Itu semua sangat penting," tukas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini