Benarkah Menguap Berlebihan Bisa Jadi Gejala Serangan Jantung?

Diana Rafikasari, Jurnalis · Kamis 03 Desember 2020 22:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 03 481 2321283 benarkah-menguap-berlebihan-bisa-jadi-gejala-serangan-jantung-Y988s1qc5R.jpg Ilustrasi menguap. (Foto: Mensxp)

SERANGAN jantung bisa menimpa siapa saja. Serangan jantung terjadi ketika arteri yang memasok darah dan oksigen ke jantung tersumbat akibat penumpukan plak lemak yang disebut kolesterol.

Serangan jantung termasuk kategori penyakit kardiovaskular yang umumnya mengacu pada kondisi melibatkan penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah. Kesalahpahaman yang umum adalah serangan jantung terjadi tanpa peringatan.

Baca juga: Sama-Sama Berdebar, Kenali Perbedaan Serangan Jantung dan Panik 

Dikutip dari Express, Kamis (3/12/2020), menguap berlebihan bisa menjadi gejala serangan jantung. Jika seseorang mengalami peningkatan menguap yang tidak dapat dijelaskan oleh kurang tidur atau penyebab lainnya, itu bisa menjadi gejala masalah kesehatan yang lebih serius.

Ilustrasi serangan jantung. (Foto: Shutterstock)

Masalah medis paling umum yang terkait peningkatan menguap adalah kurang tidur, insomnia, sleep apnea, narkolepsi, dan banyak obat yang menyebabkan kantuk.

Baca juga: Insomnia, Sesak Napas dan Rambut Rontok Jadi Gejala Awal Serangan Jantung 

Ada beberapa penyakit medis lain yang menyebabkan menguap, termasuk pendarahan di sekitar jantung, tumor otak, multiple sclerosis, stroke, dan bahkan serangan jantung. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa menguap membantu meningkatkan oksigenasi darah dan pendinginan otak.

Pakar kesehatan telah memperingatkan bahwa mereka yang menguap saat berolahraga, terutama di hari yang panas, bisa jadi berisiko terkena serangan jantung. Ini karena mekanisme pendinginan yang ada di dalam tubuh menunjukkan tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan dapat menandakan adanya masalah dengan jantung.

Kurangi risiko serangan jantung dengan menghindari konsumsi makanan tidak sehat yang tinggi lemak. Diet tinggi lemak akan memperburuk pengerasan arteri dan meningkatkan risiko serangan jantung.

Sebaliknya, seseorang harus mengikuti diet Mediterania yang tinggi lemak tak jenuh. Pola makan ala Mediterania terdiri dari makan lebih banyak roti, buah, sayuran dan ikan, dan lebih sedikit daging.

Baca juga: Selain Maradona, Tokoh-Tokoh Ini Meninggal Akibat Henti Jantung 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini