Profil Psikiater Dadang Hawari yang Meninggal karena Covid-19

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 04 Desember 2020 07:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 04 481 2321373 profil-psikiater-dadang-hawari-yang-meninggal-karena-covid-19-JxvgVjQbeH.jpg Prof.dr. Dadang Hawari, SPKJ meninggal Covid-19 (Foto: YouTube/AILA Indonesia Media)

Covid-19 kembali merenggut tokoh terkenal Indonesia. Psikiater kondang, Prof. Dr. Dr. H. Dadang Hawari Idris, SpKJ(K) meninggal dunia pada Kamis (3/12/2020) pukul 15.10 WIB. Kabar duka ini disampaikan langsung oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) melalui akun media sosial Instagram @pdskji_Indonesia.

Dokter di FKUI, Irzan Nurman juga memberikan kabar duka tersebut lewat postingan Twitternya yang bertulis. “Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Telah berpulang, guru & senior kami, Prof. dr. Dadang Hawari, SpKJ, pukul 15.10. Terakhir beliau & istri sempat masuk RS dlm perawatan krn COVID. Moga almarhum husnul khatimah. Indonesia kembali kehilangan salah satu guru besar kedokteran.”

Dr Irzan

Selain itu ungkapan dukacita pun diberikan oleh Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, dr. Ari Fahrial Syam. “Mengantar Alm Guru Besar FKUI Prof Dadang Hawari, psikiater terkenal dalam penangulangan penyalahgunaan NAPZA di Indonesia..semoga husnul khotimah.”

Sekadar informasi dokter spesialis kejiwaan tersebut lahir pada 16 Juni 1940 dan tercatat sebagai anggota PDSKJI cabang DKI Jakarta. Dokter Dadang mendapat gelar Guru Besar Tetap di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Selain aktif menjadi narasumber mengenai masalah kejiwaan, dr. Dadang juga membuka tempat praktik mandiri di Tebet Barat, Jakarta Selatan.

Dr Ari Fahrial

Baca Juga : Daftar Orang yang Tidak Bisa Diberikan Vaksin Covid-19, Siapa Saja?

Merangkum dari berbagai sumber, pada Agustus 2016 dr. Dadang menjadi salah satu ahli pemohon dalam Judical Review (Uji Materi) KUHP pasal 284, 285 dan 292 atau kerap disebut Pasal Perzinahan.

Selain itu dr. Dadang juga pernah menjadi anggota kelompok kerja (Pokja) Komite Penanggulangan Penyalahgunaan Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif Lain. Hal ini terlihat dari lampiran Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1112/Menkes/SK/VII/2000 tanggal 28 Juli 2000. Ia tergabung dalam tim Pokja Terapi dari bagian Psikiatri FKUI/RSCM.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini