Kisah Pilu Survivor TBC di Tengah Pandemi, Semakin Dikucilkan di Masyarakat

MNC Media, Jurnalis · Kamis 10 Desember 2020 14:23 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 10 612 2325182 kisah-pilu-survivor-tbc-di-tengah-pandemi-semakin-dikucilkan-di-masyarakat-fnFsDPqKbM.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PANDEMI Covid-19 memang membuat banyak orang khawatir untuk pergi ke rumah sakit. Banyak rumah sakit pun membatasi kunjungan, agar tidak terjadi penumpukan pasien di rumah sakit.

Tapi penyakit menular di Indonesia bukan hanya Covid-19. Ada penyakit yang cukup banyak terjadi di Indonesia, yakni tuberculosis atau yang kerap disebut dengan TBC.

Syifa Fauzi menjadi satu dari segelintir orang yang harus merasakan pahit getirnya bakteri Tuberculosis. Fauzi didiagnosis TBC saat masih bekerja menjadi satpam pabrik pengolahan minyak di Bekasi, Jawa Barat 2017 lalu.

"Sangat khawatir karena dengan adanya penyakit yang begini, kalau enggak buru-buru kita obati penyakit ini menular. Dan dengan kita obati pandemi covid kan sedang merajalela jadi kita dua kekhawatiran ya kekhawatiran satu TB kita khawatir dengan pandemi yang ada sangat takut," ujar Syifa Fauzi kepada jurnalis MNC media saat ditemui di rumahnya.

Fauzi merupakan pasien TB MDR atau TBC resisten obat asal Kabupaten Bekasi, yang tetap harus berobat di tengah kekhawatirannya atas pandemi Covid 19. Sejak didiagnosis TB MDR, ia pun kehilangan pekerjaannya. Satu per satu teman dan sahabat pun perlahan menghilang.

“Mereka menjauhi karena seperti dikucilkan gitu. Jadi saya sendiri juga ya udah lah mungkin karena efeknya. Kalau di sini kan TBC yang sudah bisa dikatakan bahaya,” pungkas Fauzi dengan mata yang berkaca-kaca.

Saat ini, setiap harinya Fauzi secara rutin minum belasan bahkan puluhan obat dalam satu waktu dengan efek samping yang beragam, mulai dari lemas hingga halusinasi. Untuk membayar biaya berobat pun ia seringkali harus meminjam uang ke sanak saudaranya.

“Jadi selama ini enggak ada pemasukan atau apa gitu karena saya kan enggak bekerja jadi kalau ke Jakarta harus ada modal harus punya biaya. Untuk berangkat dan pulang dan untuk makan sehari-hari di sana," katanya.

"Ya Alhamdulillah saudara-saudara mengerti karena dengan kondisi saya seperti ini kan enggak bisa mencari uang. Untuk mencari uang ke sana ke mari untuk berangkat dan pulang. Jadi kita sama saudara-saudara kita bisa pinjam dulu dikasih enggak apa-apa untuk biaya ke sana kemari baru kalau kita punya uang baru kita ganti” ujar Fauzi.

Di tengah pandemi Covid-19, kekhawatiran Fauzi pun semakin bertambah besar karena harus berobat ke Jakarta di tengah pandemi yang semakin mewabah. Berobat ke ibu kota terpaksa harus dijalani seiring dengan ditutupnya sejumlah layanan kesehatan di sekitar tempat tinggalnya karena dialihfungsikan untuk penanganan pasien Covid-19. Fauzi pun sempat terpikirkan untuk berhenti berobat demi keselamatannya.

“Sangat khawatir karena dengan adanya penyakit yang begini kalau enggak buru-buru kita obati penyakit ini menular. Dan dengan kita obati pandemi covid kan sedang merajalela jadi kita dua kekhawatiran ya, kekhawatiran satu TB kita khawatir dengan pandemi yang ada sangat takut,” ujarnya.

Kekhawatiran Syifa Fauzi dan ratusan ribu penderita TBC di seluruh Indonesia pun diamini dr. Diah Handayani spesialis paru RS Persahabatan, Jakarta Timur. Banyak pasien TB merasa kesulitan dalam memperoleh perawatan bahkan tak jarang banyak di antaranya harus putus obat. Selain itu, tenaga kesehatan pun merasa harus ekstra hati-hati dalam mengobati pasien TB khususnya TB MDR.

“kita agak susah membedakan di awal ini TB apa covid apa TB juga covid juga nah ini juga menjadi satu masalah banyak petugas yang jadi harus hati-hati Ketika memeriksa sample dari pasien sample-nya itu dahak tapi kalau dia juga ada covidnya bisa saja virusnya juga di situ, maka di sini petugas harus sangat berhati hati,” ujar dr. Diah.

Syifa Fauzi bukanlah penyintas TB MDR satu-satunya yang resah dengan situasi di tengah pandemi Covid-19. Menurut data badan kesehatan dunia (20/3/2020), World Health Organization (WHO) tercatat 845.000 penderita TB dengan 48% laki-laki, 35% perempuan dan 17% nya anak-anak.

Tak hanya itu, data Kementerian Kesehatan mencatat 9.875 pasien terkonfirmasi TB MDR (Multidrug-Resistant) atau resisten obat. Dari jumlah tersebut hanya 67% pasien yang mendapatkan akses ke fasilitas atau layanan kesehatan.

Dampaknya, menurut data WHO 96.000 Pasien TBC di Indonesia meninggal dunia di 2019. Sedangkan di 2020 sampai dengan 20 Maret tercatat 11.993 kematian akibat TBC. Jumlah ini pun diprediksi meningkat pesat di tengah pandemi Covid-19.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia menjelaskan, sesuai dengan surat edaran tanggal 30 Maret 2020 yang mengatur regulasi pasien TBC di masa Pandemi Covid-19.

Kemenkes akan terus menganjurkan kepada dinas kesehatan provinsi dan kabupaten kota untuk memiliki nomor hotline untuk pasien TB sehingga informasi mengenai fasilitas kesehatan alternatif akan tersampaikan langsung kepada pasien dan keluarga.

Selain itu penggunaan layanan telemedicine akan dioptimalkan. Sehingga pasien bisa mendapatkan akses konsultasi jarak jauh dengan dokter ataupun fasilitas kesehatannya. Serta pemanfaatan aplikasi sehatpedia yang dimiliki kementerian kesehatan untuk kegiatan telemedicine.

“Tentunya penambahan distribusi sarana diagnosis mesin tes cepat molukuler di tahun 2020 ini tetap kita sediakan karena mesin tcm ini selain dapat digunakan untuk pemeriksaan tuberculosis dapat juga bisa digunakan tbc hiv dan covid 19,” tambah dr. Siti Nadia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini