Mengenal Delirium, Gejala Baru Covid-19 yang Dialami Pasien Lansia

Alfina Nur Hayati, Jurnalis · Jum'at 11 Desember 2020 10:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 11 481 2325667 mengenal-delirium-gejala-baru-covid-19-yang-dialami-pasien-lansia-6lEC0Celbv.jpg Delirium gejala baru Covid-19 yang sering dialami lansia (Foto : Freepik)

Delirium dilaporkan menjadi gejala baru Covid-19, khususnya pada kelompok lanjut usia atau lansia. Gejala ini ditemukan setelah mengamati pasien yang positif terinfeksi Covid-19.

Gejala delirium yang umum, antara lain sulit fokus, suka melamun, daya ingat menurun, kesulitan berbicara, dan berhalusinasi. Perubahan kognitif lainnya juga menyebabkan mudah tersinggung atau mood berubah mendadak, sering gelisah, dan pola tidur berubah.

Dua studi baru tentang delirium

Studi terbaru pada November lalu menunjukkan, delirium yang disertai demam bisa menjadi gejala awal infeksi Covid-19. Delirium adalah gangguan serius pada kemampuan mental yang membuat penderitanya mengalami kebingungan parah dan kurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar.

Lansia

Kesimpulan ini hasil tinjauan penelitian ilmiah para peneliti dari Universitat Oberta de Catalunya (UOC) di Spanyol, yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Immunology and Immunotherapy.

"Delirium adalah keadaan kebingungan yang menyebabkan seseorang merasa tidak terhubung dengan kenyataan, seolah sedang bermimpi," ujar peneliti Javier Correa, dalam catatan studinya di situs resmi UOC, yang dikutip Okezone, Jumat (11/12/2020).

“Kita perlu waspada, terutama dalam situasi epidemiologis seperti ini, karena seseorang yang menunjukkan tanda-tanda kebingungan mungkin indikasi infeksi virus corona," sambung Correa.

Baca Juga : Waspada, Cegukan Bisa Jadi Gejala Baru Covid-19!

Tersorot juga fakta bersamaan hilangnya indra perasa dan penciuman serta sakit kepala yang terjadi pada hari-hari sebelum batuk dan kesulitan bernapas, beberapa pasien Covid-19 juga mengalami delirium.

Studi kedua di JAMA Network Open/Emergency Medicine menunjukkan, lansia yang terinfeksi positif Covid-19 di unit gawat darurat (UGD) rumah sakit, sering mengalami delirium. Mereka tidak menunjukkan gejala khas virus corona, seperti demam dan batuk.

Efek Covid-19 terhadap otak

Sejak ditemukan pada Desember 2019 di Wuhan, China, virus corona begitu menyorot perhatian dunia. Sekelompok ilmuwan menyelidiki Covid-19, termasuk gejala yang ditimbulkan.

Sepanjang tahun ini, sejumlah penelitian terhadap pasien Covid-19 dilakukan. Sejumlah gejala baru pun ditemukan muncul pada kebanyakan pasien. Salah satunya UOC, yang melakukan studi tentang efek virus corona terhadap otak sebagai sistem saraf pusat.

Lansia

Penelitian ini menunjukkan, virus corona juga memengaruhi sistem saraf pusat dan menghasilkan perubahan neurokognitif, seperti sakit kepala dan delirium. Hipotesis utama virus corona memengaruhi otak menunjuk pada tiga kemungkinan penyebab.

"Hipoksia atau defisiensi oksigen saraf, radang jaringan otak akibat badai sitokin, dan fakta virus memiliki kemampuan melintasi darah untuk langsung menyerang otak,” ungkap Correa.

Penyebab dan gejala delirium

Menurut Correa, delirium kemungkinan besar hasil dari peradangan sistemik organ dan keadaan hipoksia, yang juga menyebabkan jaringan saraf menjadi meradang. Kondisi ini membuat area seperti hipokampus rusak, yang terkait dengan disfungsi kognitif dan perubahan perilaku pasien penderita delirium.

Lansia

Para peneliti memeriksa 817 pasien berusia 65 tahun atau lebih yang didiagnosis Covid-19 di UGD. Mereka menemukan, hampir sepertiga pasien mengalami delirium ketika tiba di UGD.

Mengigau menjadi gejala utama yang muncul dari 16% pasien itu dan 37% lainnya tidak memiliki tanda-tanda Covid-19 yang khas. Temuan ini menunjukkan pentingnya memasukkan delirium dalam daftar periksa tanda dan gejala Covid-19 yang memandu skrining, pengujian, dan evaluasi.

"Delirium bukan hanya gejala umum Covid-19, tetapi juga mungkin gejala utama dan satu-satunya pada orang tua," kata Sharon K. Inouye, Profesor Kedokteran di Harvard Medical School, peneliti senior studi itu.

"Oleh karena itu, delirium harus dianggap sebagai gejala awal penting Covid-19," tegasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini