Vaksin Covid-19 Gratis, Penyintas Tetap Perlu Disuntik?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 16 Desember 2020 21:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 16 481 2328995 vaksin-covid-19-gratis-penyintas-tetap-perlu-disuntik-HQLEc6A1na.jpg Ilustrasi vaksin covid-19. (Foto: Jcomp/Freepik)

PRESIDEN Joko Widodo baru saja mengumumkan bahwa vaksin covid-19 gratis untuk semua masyarakat. Itu artinya semua orang tidak perlu mengeluarkan uang satu rupiah pun untuk mendapatkan vaksin covid-19.

"Setelah melakukan kalkulasi ulang, melakukan perhitungan ulang mengenai keuangan negara, dapat saya sampaikan bahwa vaksin covid-19 untuk masyarakat adalah gratis. Gratis tidak dikenakan biaya sama sekali," kata Presiden Jokowi dalam video resmi yang dibagikan melalui akun YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (16/12/2020).

Kepala Negara pun langsung menginstruksikan jajarannya, baik kementerian atau lembaga maupun pemda, untuk memprioritaskan program vaksinasi pada tahun anggaran 2021.

"Saya juga menginstruksikan dan memerintahkan kepada Menteri Keuangan untuk memprioritaskan dalam merealokasi dari anggaran lain terkait ketersediaan dan vaksinasi secara gratis ini. Sehingga, tidak ada alasan bagi masyarakat untuk tidak mendapatkan vaksin," sambung Jokowi.

Baca juga: Presiden Jokowi Gratiskan Vaksin Covid-19, Kaesang Pangarep: Horeee 

Di sisi lain, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengeluarkan pernyataan bahwa kelompok prioritas yang mendapatkan vaksin covid-19 adalah tenaga kesehatan yang ada di garda terdepan mengalahkan virus corona.

Tidak hanya itu, staf fasilitas kesehatan juga masuk prioritas. Kelompok usia 65 tahun ke atas dan mereka yang memiliki penyakit penyerta pun menjadi prioritas utama yang didahulukan mendapatkan vaksin covid-19.

Menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah para penyintas covid-19 tetap perlu disuntik vaksin sekalipun di dalam tubuhnya sudah tercipta antibodi virus corona?

"Kami tahu bahwa orang yang pernah terjangkit covid-19 memiliki kekebalan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Kami hanya tidak tahu pastinya berapa lama," terang dr John Whyte, kepala petugas medis, dalam situs web perawatan kesehatan WebMD, seperti dikutip dari Fox News.

Baca juga: 3 Langkah Edukasi Pemerintah ke Masyarakat Sebelum Vaksinasi Massal 

Dia menambahkan, dalam kasus virus baru seperti SARS-CoV2 penyebab covid-19 mungkin kekebalan tubuh akan bertahan bertahun-tahun. Meski pada penelitian yang diterbitkan pada November mencatat bahwa kekebalan yang ada di tubuh penyintas hanya mampu bertahan enam bulan.

"Tapi, kekebalan yang tercipta dari vaksin durasi bertahannya di tubuh akan lebih kuat dibanding kekebalan yang tercipta dari tertular covid-19," tambah Whyte.

Terkait kemungkinan adanya keinginan vaksinasi pada kelompok penyintas covid-19, Whyte mengatakan sebaiknya kelompok tersebut ditempatkan di antrean terakhir, karena mereka sejatinya sudah memiliki perlindungan dibandingkan orang yang tidak terpapar.

Sementara pada 13 Desember, CDC mengeluarkan pernyataan bahwa orang yang pernah terinfeksi covid-19 tetap disarankan mendapat vaksin covid-19, bahkan jika mereka sakit parah sebelumnya.

Badan Kesehatan Amerika memberikan alasan bahwa penyintas covid-19 tetap perlu mendapat vaksin terkait kemungkinan penyakit yang lebih parah atau infeksi ulang yang masih mungkin terjadi.

"Saat ini para ahli belum mengetahui sampai kapan seseorang terlindungi dari sakit lagi setelah sembuh dari covid-19. Kekebalan yang didapat seseorang dari infeksi yang disebut kekebalan alami bervariasi dari satu orang ke orang lain. Beberapa bukti awal menunjukkan kekebalan alami mungkin tidak bertahan lama," lapor CDC.

"Kami tidak akan tahu berapa lama kekebalan yang dihasilkan oleh vaksinasi bertahan sampai kami memiliki vaksin dan lebih banyak data tentang seberapa baik kerjanya," tambah CDC.

CDC melanjutkan, baik kekebalan alami atau kekebalan yang diinduksi vaksin, adalah aspek penting dari covid-19. Para ahli pun terus mencoba mempelajari lebih lanjut mengenai penyakit ini dan setiap bukti baru akan disampaikan ke publik setransparan mungkin.

Baca juga: Ini Perbedaan Tes PCR dan Antigen untuk Deteksi Covid-19 

Di sisi lain, Direktur Pusat Nasional untuk Imunisasi dan Penyakit Pernapasan di CDC dr Nancy Messonnier menjelaskan bahwa mungkin ada efek samping yang akan dirasakan penyintas covid-19 yang divaksinasi. Hal itu dilihat dari 'tanggapan teoretis' dan 'tanggapan praktis'.

"Para ilmuwan yang mengetahui tentang penyakit ini percaya tidak ada efek buruk yang serius dari vaksinasi pada penyintas covid-19," terang Messonnier.

Lebih lanjut, seperti yang disampaikan sebelumnya, ada tanggapan teoretis, ada tanggapan praktis.

"Secara praktis, dalam uji klinis saya memahami bahwa mereka mengecualikan orang yang terinfeksi pada saat mereka mendaftar dalam uji coba bahwa ada beberapa orang dalam uji klinis yang pernah menderita covid-19 dan mereka memiliki tingkat antibodi," paparnya.

Baca juga: 4 Olahraga yang Bisa Dilakukan Selama Masa Pemulihan Covid-19 

Hal ini terlihat dari sukarelawan dalam uji coba Pfizer dan Moderna yang diperkirakan telah terinfeksi sebelumnya, meskipun kedua perusahaan tidak secara aktif merekrut mereka yang bergejala atau memiliki infeksi yang diketahui.

Dokter Anthony Fauci, pakar penyakit menular, punya jawaban sederhana untuk menjawab persoalan ini. Menurut dia, orang yang pernah terinfeksi covid-19 tetap perlu mendapatkan vaksin.

"Setelah Anda terinfeksi virus, tidak ada kepastian berapa lama perlindungan itu akan berlangsung atau apakah perlindungan Anda cukup baik atau tidak. Jadi, ini bukan kontraindikasi terhadap vaksin jika Anda sudah pernah terinfeksi covid-19," terangnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini