Ini Peran Penting Zat Besi untuk Tumbuh Kembang Anak

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 17 Desember 2020 17:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 17 481 2329620 ini-peran-penting-zat-besi-untuk-tumbuh-kembang-anak-VHmHzyN0h0.jpg Ilustrasi anak-anak. (Foto: Jcomp/Freepik)

ANAK menjadi salah satu kelompok yang rentan mengalami anemia atau kurang darah. Masa kritis anemia pada anak terjadi pada usia 6 bulan sampai 3 tahun yang 50 sampai 60 persennya disebabkan defisiensi zat besi.

Spesialis Gizi dan Ketua Departemen Ilmu Gizi FK UI dr Nurul Ratna Mutu Manikam MGizi SpGK mengatakan zat besi memiliki peran yang sangat besar bagi tumbuh kembang anak.

Baca juga: Anak Menderita Anemia, Ini Dampak Jangka Pendek dan Panjangnya 

Dalam webinar bertajuk 'Kekurangan Zat Besi sebagai Isu Kesehatan Nasional di Indonesia dan Dampaknya Terhadap Kemajuan Anak Generasi Maju', Kamis (17/12/2020), dr Nurul membagikan peran zat besi pada tumbuh kembang anak.

Ilustrasi anak-anak. (Foto: Victoria Borodinova/Pixabay)

1. Pembentuk komponen protein, lemak, pada myelin saraf otak.

Kalau digambarkan saraf otak manusia itu seperti ranting pohon. Pada saat anak usia 6 bulan sampai 2 tahun pertama maka cabangnya akan semakin padat. Makin padat cabangnya, artinya kognitif anak akan makin baik.

"Pembentuk cabang ini adalah myelin saraf otak yang komponennya protein dan lemak. Cabang ini akan membantu pembentukan dan fungsi neurotransmitter di otak. Neurotransmitter itu semacam alat transportasi yang mengoneksi satu sel ke sel lainnya," terang dr Nurul.

Zat besi itu adalah kofaktor enzim dan transporter serotonin, dopamin, serta norepinefrin yang merupakan neurotransmitter. Pada anak kekurangan zat besi maka kinerja neurotransmitter akan terhambat. Kalau sudah terhambat, kemampuan kognitifnya jadi lebih lambat.

Baca juga: Anak Terkena Covid-19 Juga Berisiko Alami Kematian 

2. Membantu perkembangan motorik

Zat besi ini membawa dan men-transport oksigen ke dalam sel termasuk otot. Jadi jika terjadi anemia, maka transmisi transportasi ke dalam sel akan terganggu. Akibatnya akan mengganggu kemampuan motorik anak.

"Jadi kalau anak biasa lompat-lompat atau berlari, pada anak yang anemia jadi lebih malas untuk bergerak," sambungnya.

3. Mendukung perkembangan perilaku dan emosi

Apabila orangtua ingin anaknya responsif, cepat tanggap, emosi lebih stabil, maka harus menghindari anemia. Sebab, anak yang anemia kurang aktif dalam mencoba sesuatu yang baru. Bukan karena orangtuanya melarang, tapi karena perilakunya lebih sulit untuk diatur.

Baca juga: Bunda, Cegah Anemia Anak dengan Perhatikan Asupan Zat Besinya Yuk 

Anak-anak. (Foto: Rawpixel/Freepik)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini