Anak Usia 5 Tahun Lebih Masih Mengompol, Wajarkah?

Antara, Jurnalis · Minggu 20 Desember 2020 08:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 20 481 2330892 anak-usia-5-tahun-lebih-masih-mengompol-wajarkah-U7t4V2NN3a.jpg Ilustrasi anak. (Foto: Freepik)

BEBERAPA anak masih mengompol ketika tidur di malam hari. Di antara mereka bahkan usianya sudah cukup besar yakni 5 tahun lebih. Lalu muncul pertanyaan, wajarkah ini terjadi?

Harus menjadi perhatian terkait kondisi anak berusia lebih dari 5 tahun yang masih mengompol ketika tidur malam. Bisa jadi mereka belum bisa berkemih mandiri atau buang air kecil sendiri di kamar mandi. Patut dicurigai juga mengalami enuresis.

Baca juga: Apa Penyebab Sering Ngompol meski Sudah Remaja? 

"Proses berkemih saat anak bangun dan tidur itu bagian terakhir proses tumbuh kembang. Perlu waktu hingga usia 4 tahun baru anak bisa mulai mengontrol berkemihnya saat bangun dan saat tidur. Enuresis (terjadi) kalau anak usia lebih dari 5 tahun pada malam hari mengompol saat tidur," ungkap Kepala Departemen Urologi FKUI-RSCM Irfan Wahyudi, seperti dikutip dari Antara, Minggu (20/12/2020).

Anak usia 1 sampai 2 tahun umumnya baru merasakan kandung kemih penuh, diikuti kemampuan buang air kecil secara sadar. Ketika usia 3 tahun, anak akan mampu menahan pipis. Lalu di atas usia 4 tahun tidak mengompol pada malam hari.

Ilustrasi anak salih. (Foto: Rawpixel/Freepik)

"Ajari anak dengan toilet training usia 2 tahun, lalu penggunaan popok sampai anak besar itu bisa menyebabkan anak malas ke toilet," jelas Irfan.

Sementara jika anak tak bisa mengontrol berkemih saat terbangun pada malam hari maka disebut nokturia. Pada orang dewasa ini diartikan terbangun bangun untuk berkemih dan diikuti keinginan tidur lagi.

Baca juga: Kenali Tipe Nokturia yang Sebabkan Seseorang Sering Pipis Tiap Malam 

Enuresis bisa diikuti gejala berkemih lain, seperti buang air kecil terputus-putus atau nyeri saat berkemih atau tak ada gejala lain yang disebut monosimtomatik enuresis (MNE).

Menurut Irfan, kecurigaan enuresis pada anak juga bisa diperkuat jika tidak ada kelainan saraf atau anatomi, mengompol terus terjadi atau kambuh kembali setelah enam bulan.

Penyebab kondisi ini akibat produksi urine di malam hari yang seharusnya dikurangi akivitas hormon arginin vasopresin malah tidak terjadi sehingga produksi urin tetap tinggi sementara kapasitas kandung kemih relatif kecil.

Pada 2/3 anak enuresis, kadar hormon yang bertugas menyerap kembali air di ginjal sehingga produksi urine menurun ini rendah pada malam hari.

Baca juga: Waspada, Nokturia Dikaitkan dengan Diabetes Mellitus 

"(Penyebab lainnya) bisa juga karena (kandung kemih) sensitif dan faktor lain seperti ketidakmampuan anak bangun di malam hari saat kandung kemih penuh," ucap Irfan.

Di sisi lain, riwayat keluarga dengan masalah serupa, konstipasi, infeksi saluran kemih, kapasitas kandung kemih yang kecil, ansietas, gangguan tidur, ganggu psikologi dan diabetes juga bisa menjadi penyebab lain dan faktor risiko.

Di Indonesia kejadian enuresis, menurut data Perkumpulan Kontinensia Indonesia (PERKINA), pada 2008 menujukkan angka 2,3 persen dengan perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan 2:1.

Baca juga: Intervensi Gaya Hidup untuk Mencegah Nokturia 

Apa dampak enuresis pada anak? Irfan mengatakan, anak bisa menurun rasa percaya dirinya, menarik diri dari lingkungan karena merasa minder masih mengompol, mengalami gangguan tidur akibat merasa tidak nyaman mengompol dan berpotensi mengalami gangguan pada kesehatannya.

"Enuresis yang terjadi pada anak kurang dari 5 tahun masih dalam keadaan normal. Jika usia telah lebih dari 5 tahun segera berobat ke dokter," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini