Cerita Natal di Tengah Porak Poranda Ledakan Beirut Lebanon

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 24 Desember 2020 17:23 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 24 612 2333466 cerita-natal-di-tengah-porak-poranda-ledakan-beirut-lebanon-0vvnNOYVJz.jpg Cerita Natal di tengah porak poranda ledakan Beirut Lebanon (Foto : Arabnews)

Jalanan dan pasar di Beirut Lebanon mulai dipadati masyarakat yang ingin mencari dekorasi Natal. Namun, hal tersebut tidak berarti Beirut telah bangkit atau sudah banyak suka cita di antara masyarakatnya.

Ramainya orang mencari dekorasi Natal itu karena harga yang ditawarkan gila-gilaan. Ya, penjual berpikir, daripada menumpuk di gudang, lebih baik dijual dengan harga miring. Itu yang bikin banyak orang membeli dekorasi Natal.

Natal di Beirut, Lebanon, jauh dari kesan mewah. Hal ini karena wilayah yang terdampak akibat ledakan yang terjadi pada 4 Agustus 2020 itu mengalami kebangkrutan. Banyak orang tak bisa mencukupi kebutuhan dasarnya.

"100.000 pound Lebanon (66 USD) atau sekitar Rp942 ribu tidak cukup untuk membeli deterjen, pasta gigi, dan sampo," kata Souad, seorang penduduk Forn El-Chebbak di pinggiran selatan Beirut, lapor Arab News.

Beirut Lebanon

"Lantas, bagaimana orang dengan gaji 800.000 pound Lebanon (530 USD) atau sekitar Rp7,6 juta bisa merayakan Natal dengan banyak makanan dan minuman?" tanya Souad menyadarkan pikiran banyak orang soal nasib orang-orang Beirut pasca-ledakan.

Souad pun menceritakan kalau dirinya tahun ini hanya bisa memberikan anak-anaknya satu kado Natal, yang biasanya lebih dari itu. "Meyakinkan anak-anak bahwa ayahnya hanya bisa memberikan sebuah kado Natal saja perlu perjuangan," keluhnya.

Baca Juga : 4 Ide Hadiah Natal untuk Orang Terdekat

Ya, di Lebanon, rerata harga mainan atau hadiah Natal itu berkisar 20.000 pound Lebanon (13 USD) atau sekitar Rp1,7 juta sebelum mata uang anjok, dan membuat harga mainan sekarang sekitar 120.000 pound Lebanon (79 USD) atau Rp1,1 jutaan. Itu pun harga dari mainan lokal, beda dengan mainan impor yang harganya bisa mencapai 250.000 pound Lebanon (165 USD) atau sekitar Rp2,4 juta.

Beda lagi dengan harga hadiah untuk orang dewasa uang berkualitas baik itu bisa mencapai 1 juta pound Lebanon (662 USD) atau sekitar Rp9,5 jutaan. "Karena kenaikan harga ini membuat pembelian barang pun menjadi sangat kecil. Kalung yang biasanya 300.000 pound Lebanon (198 USD) atau sekitar Rp2,8 juta menjadi 1,6 juta pound Lebanon (1060 USD) atau Rp15 jutaan," curhat Ghassan, pemilik toko perhiasan.

Di sisi lain, pandemi Covid-19 memberi berkah tersendiri bagi banyak masyarakat Lebanon. Pasalnya, karena ada larangan pertemuan dengan orang lain, itu membuat keluarga di Lebanon tidak harus menyediakan makanan yang banyak. Karena itu, biaya penyediaan makanan Natal yang biasanya banyak dipangkas habis.

Ya, daging yang harus dibeli harus banyak dan harganya selangit, pun makanan penutup yang harganya juga ikut meroket. Tradisi Natal di Lebanon adalah menyediakan 200 gram tiga jenis keju dan daging olahan pilihan yang harganya mencapai 350.000 pound Lebanon (231 USD) atau sekitar Rp3,3 juta.

Kalkun

Kalkun yang tak pernah ketinggalan di tradisi Natal Lebanon pun harganya ikutan naik. Dari yang sebelumnya 150.000 pound Lebanon (99 USD) atau sekitar Rp1,4 juta yang bisa dimakan di restoran, kini kalkun matang harganya bisa mencapai 1,3 juta pound Lebanon (861 USD) atau sekitar Rp12,3 juta.

Harga-harga pencuci mulut pun tak murah. Cokelat kualitas wahid harganya 120.000 pound Lebanon (79 USD) atau sekitar Rp1,1 juta, sedangkan kue Natal mewah bisa mencapai 1 juta pound Lebanon (662 USD) atau sekitar Rp9,5 jutaan.

"Perayaan Natal tahun ini benar-benar berbeda karena tak ada makanan asing di atas meja atau hadiah impor yang akan diterima anak-anak," kata penduduk Beirut bernama Joelle Daniel. "Kami benar-benar membeli produk lokal saja di Natal kali ini," sambungnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini