Covid-19 Jenis Baru Lebih Ganas? Begini Penjelasan Ahli UGM

krjogja.com, Jurnalis · Minggu 27 Desember 2020 08:25 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 27 481 2334374 covid-19-jenis-baru-lebih-ganas-begini-penjelasan-ahli-ugm-AAHNPbTlCr.jpg Ilustrasi peneliti meneliti virus corona (Foto : Livescience)

Covid-19 jenis baru dari Inggris membuat masyarakat dunia merasa khawatir. Karena, mutasi virus corona tersebut disebut-disebut lebih menginfeksi manusia.

Benarkah virus corona jenis baru ini lebih ganas? Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM, dr Gunadi Ph.D. Sp.BA mengatakan adanya analisis genomik mutasi virus corona setelah melihat peningkatan signifikan kasus di Inggris pada bulan Desember ini.

Covid-19

Terdapat sekelompok mutasi (varian) baru pada >50% kasus Covid-19 di Inggris tersebut yang dikenal dengan nama VUI 202012/01 (Variant Under Investigation, tahun 2020, bulan 12, varian 01), yang terdiri dari sekumpulan mutasi antara lain 9 mutasi pada protein S (deletion 69-70, deletion 145, N501Y, A570D, D614G, P681H, T716I, S982A, D1118H).

Baca Juga : Ahli Epidemiologi Usul Akses ke Inggris Ditutup demi Cegah Covid-19 Jenis Baru

Varian baru (501.V2) juga ditemukan secara signifikan pada kasus Covid-19 di Afrika Selatan yaitu kombinasi 3 mutasi pada protein S: K417N, E484K, N501Y. Menurut Gunadi, hingga hari ini varian VUI 202012/01 telah ditemukan pada 1.2 persen virus pada database GISAID, 99 persen varian tersebut dideteksi di Inggris.

“Selain di Inggris, varian ini telah ditemukan di Irlandia, Perancis, Belanda, Denmark, Australia. Sedangkan di Asia baru ditemukan pada 3 kasus yaitu Singapura, Hong Kong dan Israel. Dari 9 mutasi tersebut pada VUI 202012/01, ada satu mutasi yang dianggap paling berpengaruh yaitu mutasi N501Y. Hal ini karena mutasi N501Y terletak pada Receptor Binding Domain (RBD) protein S. RBD merupakan bagian protein S yang berikatan langsung dengan ACE2 receptor untuk menginfeksi sel manusia,” ungkapnya pada media, Sabtu 26 Desember 2020, dikutip dari Krjogja.

Lantas, dampak mutasi baru ini menurut Gunadi diduga bisa meningkatkan transmisi antar manusia sampai dengan 70 persen. Namun begitu, mutasi belum terbukti lebih berbahaya atau ganas dan belum terbukti mempengaruhi efektivitas vaksin Corona yang ada.

“Untuk tes PCR, diagnosis infeksi COVID-19 mendeteksi kombinasi beberapa gen pada virus Corona, misalnya gen N, gen orf1ab, gen S, dll. Karena varian baru tersebut terdiri dari multiple mutasi pada protein S, maka diagnosis COVID-19 sebaiknya tidak menggunakan gen S, karena bisa memberikan hasil negatif palsu. Peran surveilans genomik (whole genome sequencing) virus Corona menjadi sangat penting dalam rangka identifikasi mutasi baru, untuk pelacakan (tracing) asal virus tersebut dan dilakukan isolasi terhadap pasien dengan mutasi tersebut, sehingga penyebaran virus Corona bisa dicegah lebih lanjut,” sambung dia.

Masker

Sementara Gunadi juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dengan mutasi baru tersebut. Namun, ia menilai tak perlu sikap berlebihan yang justru akan memunculkan hal negatif bagi masyarakat.

“Masyarakat boleh waspada dengan adanya mutasi baru tersebut, namun tidak perlu disikapi dengan kekhawatiran berlebihan. Masyarakat tetap harus menerapkan 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak/menghindari kerumunan),” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini