Deretan Pemicu Sakit Asma, Nomor 2 Harus Sangat Dihindari Ya

Sausan Sudarjat, Jurnalis · Senin 28 Desember 2020 06:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 28 481 2334649 deretan-pemicu-sakit-asma-nomor-2-harus-sangat-dihindari-ya-b6E39vvOXw.jpg Ilustrasi sakit asma. (Foto: Huffingtonpost)

SAKIT asma merupakan kondisi di mana seseorang sulit bernapas. Kondisi ini terjadi akibat saluran udara meradang, sempit, dan membengkak, kemudian menghasilkan lendir berlebih sehingga menyulitkan bernapas.

Sakit asma juga bisa menyebabkan nyeri dada, batuk, dan napas berbunyi. Asma biasanya ditangani dengan inhaler penyelamatan untuk mengobati gejala dan pengendali inhaler yang mencegah gejalanya.

Baca juga: Bisa Redakan Asma, Simak Sederet Manfaat Tersembunyi Bunga Lavender 

Kasus yang parah mungkin membutuhkan inhaler yang berefek lebih lama yang menjaga saluran udara terbuka, serta steroid oral.

Dikutip dari Live Science, gejala asma bisa disebabkan faktor genetik dan lingkungan. Orang penderita asma biasanya memiliki faktor genetik yang membuatnya rentan terhadap asma.

Selain itu, faktor lingkungan seperti paparan alergi atau infeksi virus tertentu saat bayi, bisa meningkatkan risiko terkena penyakit tersebut. Demikian menurut National Heart, Lung, dan Blood Institute (NHLBI).

Pemicu gejala asma secara umum yakni asap rokok, tungau debu, polusi udara, serbuk sari, jamur, infeksi saluran pernapasan, aktivitas fisik, udara dingin, serta reaksi alergi terhadap beberapa makanan.

Berikut ini cara menghindari pemicu asma yang mungkin tidak diketahui, seperti dilansir The Healthy, Senin (28/12/2020).

Asma. (Foto: Shutterstock)

1. Hormon

Menurut dr Payal Patel MD, anggota American Academy of Allergy Asthma and Immunology, sakit asma lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Ini kemungkinan ada kaitannya dengan korelasi antara asma dan hormon estrogen serta progesterone.

Asma bisa menjadi lebih buruk sebelum dan selama menstruasi atau membaik selama kehamilan. Demikian diungkapkan dr Patel.

"Ini sejalan dengan teori bahwa kontrasepsi oral dapat meningkatkan fungsi paru-paru karena fluktuasi kadar hormon yang berkurang," katanya. Ini gejala siklus menstruasi yang tidak biasa dan harus diperhatikan.

Baca juga: 5 Kali Tes, Dewi Perssik Akhirnya Negatif COVID-19 

2. Stres

Ketika mengalami stres biasanya serangan asma terjadi lebih sering dan parah. Tidak dipahami sepenuhnya mengapa bisa begitu, tetapi ketika tubuh memiliki tingkat kortisol yang rendah atau tidak efektif, hormon stres tidak dapat mengurangi peradangan.

"Penting untuk mengenali ini dan mencari cara untuk mengurangi stres harian," kata dr Patel.

3. Polusi

Polusi udara, seperti asap knalpot motor dan mobil, bisa memicu sakit asma. "Olahraga saat polusi tinggi atau di dekat jalan raya yang sibuk harus dihindari," saran dr Patel.

Ia merekomendasikan untuk melakukan gym di dalam rumah daripada lari di luar dengan kualitas udara yang buruk. Bisa juga ke tempat-tempat yang sejuk udaranya segar dan jauh dari polusi kendaraan.

4. Serangga

Jaga kebersihan rumah agar serangga kotor, seperti kecoa dan tikus tidak masuk ke dalam. Sebab kotoran serangga itu dapat memicu asma.

"Hewan pengerat juga dapat memicu asma, baik tikus dalam kota atau tikus di perdesaan," kata dr Patel.

Baca juga: Deretan Khasiat Gula Merah, Cegah Asma hingga Melindungi Kulit 

5. Pengawet

Bahan sulfit yang digunakan sebagai pengawet dalam produk seperti anggur, buah kering, dan sari buah, saus tomat/sambal buatan, serta sosis dapat mengiritasi paru-paru dan menyebabkan reaksi pada sekira 5 hingga 10 persen penderita asma.

Hal itu disebabkan selama pencernaan, perut menguapkan sulfit menjadi tetesan yang lewat tenggorokan dan masuk ke paru-paru dan menyebabkan iritasi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini