Tes Rapid Antibody Vs Antigen, Ini Perbedaan Mencoloknya

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 30 Desember 2020 16:58 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 30 481 2336459 tes-rapid-antibody-vs-antigen-ini-perbedaan-mencoloknya-3OR4HFfEzT.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

SEBELUM rapid tes antigen terkenal karena menjadi persyaratan wajib seluruh penumpang transportasi umum, masyarakat lebih dulu kenal dengan tes rapid antibody. Rapid antibody sendiri, sudah diakui oleh WHO sebagai alat untuk deteksi dini Covid-19.

Menurut dr. Muhamad Fajri Adda'I, tim Koordinator Relawan Satgas Covid-19, tes rapid antibody adalah mengukur antibody yang muncul dalam tubuh seseorang. Efektivitas tes rapid antibody ini bisa terbilang rendah, karena sifatnya yang ‘datang belakangan’.

“Dari segi timing misalnya, ketika orang terinfeksi tanggal 1 Desember, kemudian bergejala di tanggal 10. Nah antibody itu mungkin munculnya bisa baru tanggal 18 atau 20 Desember," jelas dia.

Rapid tes antibody hadir dengan kemampuan sensivitas (kemampuan alat untuk mendeteksi suatu penyakit) yang semakin waktu berjalan maka semakin tinggi.

“Contohnya terlihat di tanggal 20 Desember itu mungkin hanya 50%, tapi sebulan kemudian bisa 90%, jadi belakangan munculnya. Makin lama makin terlihat jelas, dan tes ini hanya mengetahui antibodi saja, yang adanya di dalam darah. Makanya diceknya lewat darah,” imbuhnya.

Berbeda dengan tes antigen, dr. Muhamad Fajri Adda'I menerangkan tes antigen ini sifatnya lebih spesifik karena bisa melihat keberadaan virus secara langsung.

“Antigen itu melihat langsung, ada proteinnya lah. Diibaratkan pencuri, nah tes antigen ini bisa melihat pencurinya. Meskipun bukan wujud utuh, lihat jejaknya. Misalnya kakinya doang, tangannya doang, sidik jarinya doang,” ujarnya.

Oleh karena itu, dari fase akut pun sudah bisa dideteksi melalui rapid tes antigen. Dia mengatakan, hingga 7 hari ke depan pasca-bergejala, tes antigen masih bisa mendeteksi.

"Artinya untuk syarat penumpang transportasi umum, antigen lebih baik daripada antibody. Apalagi swab PCR kan jauh lebih mahal, enggak semua orang bisa. Misalnya orang sakit, tes antigennya hasilnya positif, ada riwayatnya ada kontaknya," tutur dia.

"Dari guideline terbaru WHO, itu sudah bisa terkonfirmasi Covid-19. Nah Indonesia, belum mengadopsi itu. Tapi mungkin akan ke situ arahnya," tutup dr. Muhamad Fajri Adda'I.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini