Tidak dengan Tantrum, Ini 5 Cara Ajarkan Anak Utarakan Sikap Tak Setuju

Pradita Ananda, Jurnalis · Minggu 03 Januari 2021 10:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 03 612 2337944 tidak-dengan-tantrum-ini-5-cara-ajarkan-anak-utarakan-sikap-tak-setuju-0tL8ZpwWXl.jpeg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

DI era sekolah online dan menjaga jarak dengan orang lain seperti saat ini. Anak-anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan interpersonal yang penting. Salah satunya, ialah bagaimana untuk tidak setuju.

Dikatakan oleh psikolog berlisensi, Leonard Felder, ketika anak-anak bisa belajar untuk tidak setuju tanpa menggunakan emosi atau amarah. Maka anak-anak bisa mengembangkan keterampilan penting untuk memiliki hubungan pertemanan yang baik dan menjadi bagian dalam kelompok teman-teman sebayanya.

Lalu seperti apa mengajarkan anak dengan baik, untuk tidak setuju tanpa perlu tantrum? Mengutip Yahoo, yuk simak paparan singkat 5 cara baik ajarkan anak untuk tidak setuju, menurut saran dari para ahli di bawah ini.

Anak-anak

Mulai sejak dini

Tips pertama datang dari Robin Goodman, selaku psikolog klinis dan terapis seni anak-anak. Sebisa mungkin sejak usia dini, anak-anak sudah diajari untuk berbagi dan bersikap sopan. 

Robin menyebut, ajaran ini sebagai pondasi dasar. “Ini adalah pondasi yang bagus untuk komunikasi yang baik dan bergaul dengan orang lain,” kata Robin. 

Belajar untuk tidak setuju adalah proses seumur hidup yang dimulai dengan keterampilan dasar seperti empati dan komunikasi.

Bicara tentang perasaan 

Cara kedua dari Robin, ialah membiasakan anak untuk membicarakan tentang perasaannya. Membantu anak-anak memahami dan mengekspresikan emosi mereka dapat melatih anak untuk menangani konflik dan perselisihan. 

"Menolong anak untuk bisa memahami perasaan mereka saat konflik muncul sangat membantu. Contohnya apakah mereka merasa sakit hati, tersisih, frustrasi, tidak didengarkan, atau dipermalukan? Menempatkan kata-kata untuk perasaan dapat membantu memahami apa yang sedang terjadi dan sumber masalahnya, bukan hanya soal isu perselisihan,” jelas Robin.

Anak-anak

Kembangkan empati 

Psikolog, terapis, dan penulis Sheryl Ziegler menyarankan orang tua agar mengajarkan anak mengembangkan perasaan empati yang ada. Contohnya, dengan meminta anak untuk memposisikan diri mereka di posisi orang lain. 

“Tantang anak, dengan beri pertanyaan seperti, kenapa bicara seperti itu, bagaimana rasanya jika ditinggalkan, apa perasaan dan pikiran orang lain,” kata Sheryl. 

Mengasah empati adalah keterampilan yang bagus untuk komunikasi yang efektif, meningkatkan hubungan, dan bertahan dalam masa-masa sulit. 

Beri contoh 

Orang tua adalah role model terdekat anak-anaknya. Maka dari itu, Robin menyarankan orang tua harus berhati-hati dalam berperilaku. “Awasi bagaimana diri kita sendiri ketika sedang tidak setuju dengan pasangan atau teman. Mengingat anak itu melihat dan mempelajarinya langsung secara real time,” jelas Robin.

Bangun skill mendengarkan

Ini jadi metode penting, dikatakan Sara Potler LaHayne, pendiri provider social-emotional learning Move This World, karena kemampuan mendengarkan berhubungan dengan kesalahpahaman. 

“Sebagian besar konflik muncul dari miskomunikasi. Ingatkan anak-anak kita, tentang seperti apa menjadi pendengar yang baik, termasuk melihat langsung ke pembicara, kebiasaan mengulangi untuk memahami, dan mengajukan pertanyaan daripada langsung menyela,” tutur Sara. 

Media seperti podcast dan audiobook, disebutkan bisa jadi salah satu cara bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan mendengar. Robin menegaskan, skill mendengarkan di sini pointnya adalah, untuk memahami bukan membuktikan diri kita benar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini