Share

Fakta-Fakta Parosmia, Gejala Baru Covid-19 yang Ganggu Penciuman

Diana Rafikasari, Jurnalis · Senin 04 Januari 2021 14:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 04 481 2338547 fakta-fakta-parosmia-gejala-baru-covid-19-yang-ganggu-penciuman-MB38u7A8K9.jpg Ilustrasi covid-19. (Foto: Fernandozhiminaicela/Pixabay)

PENDERITA covid-19 melaporkan adanya gejala baru berupa parosmia atau gangguan indera penciuman. Ini berbeda dengan gejala sebelumnya yang berupa batuk, demam, dan sebagainya.

Gejala parosmia dinilai sangat aneh dan unik. Para penderita parosmia mengatakan itu mengurangi kenikmatan makanan dan mengubah aroma sjumlah benda-benda.

Baca juga: Mengenal Parosmia, Gangguan Penciuman Penderita Covid-19 

"Pagi ini saya melihat dua pasien dengan parosmia. Yang satu mengatakan mereka bisa mencium bau ikan menggantikan bau lain, dan yang lain bisa mencium bau terbakar saat tidak ada asap di sekitarnya," kata Profesor Nirmal Kumar, ahli bedah telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) sekaligus guru besar di Edge Hill University Medical School, seperti dilansir Express, Senin (4/1/2021).

Virus corona menyerang sistem pernapasan, hidung dan tenggorokan. Ini menyebabkan orang kehilangan indera penciuman.

Bukti terbaru menunjukkan covid-19 dapat menyebabkan hal sebaliknya dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Parosmia mengacu pada fenomena ini, karena orang melaporkan bau tidak sedap berbulan-bulan setelah tertular virus corona.

Berikut ini fakta-fakta gejala baru covid-19 parosmia yang menyasar penciuman, seperti dirangkum dari Healthline.

Baca juga: Sebagian Penderita Covid-19 Alami Parosmia, Bisa Kembali Pulih? 

1. Tidak dapat mendeteksi aroma

Orang dengan parosmia mengalami kehilangan intensitas aroma yang berarti tidak dapat mendeteksi seluruh bau di sekitar. Terkadang parosmia menyebabkan hal-hal yang ditemui setiap hari tampak seperti memiliki bau yang kuat dan tidak menyenangkan.

Anda dapat mendeteksi bau yang ada tetapi baunya salah bagi mereka. Misalnya, bau harum dari roti yang baru dipanggang berbau menyengat dan busuk, bukan yang halus dan manis.

2. Gejala

Tingkat keparahan gejala bervariasi dari setiap kasus. Gejala utama parosmia adalah merasakan bau busuk yang terus-menerus, terutama saat ada makanan. Anda juga mengalami kesulitan mengenali atau memperhatikan beberapa bau di sekitar, akibat kerusakan neuron penciuman.

Aroma yang tadinya Anda anggap menyenangkan sekarang menjadi sangat kuat dan tak tertahankan. Jika Anda mencoba makan makanan yang baunya tidak enak, merasa mual atau mual saat makan.

3. Penyebab

Parosmia biasanya terjadi setelah neuron pendeteksi aroma atau juga disebut indera penciuman rusak karena virus atau kondisi kesehatan lainnya. Neuron-neuron ini melapisi hidung dan memberi tahu otak cara menafsirkan informasi kimiawi yang membentuk bau. Kerusakan neuron ini mengubah cara bau mencapai otak.

4. Diagnosis

Parosmia dapat didiagnosis oleh ahli otolaringologi, yang juga dikenal sebagai dokter telinga-hidung-tenggorokan, atau THT. Dokter akan memberikan zat yang berbeda kepada dan meminta Anda menjelaskan aromanya dan menentukan peringkat kualitasnya.

Baca juga: Yuk, Belajar Bagaimana Vaksin Covid-19 Bekerja di Tubuh Kita 

5. Pengobatan

Perawatan untuk parosmia meliputi klip hidung untuk mencegah bau masuk ke hidung, seng, vitamin A dan antibiotik. Beberapa orang dengan parosmia menemukan gejala mereda dengan mengekspose diri mereka sendiri pada empat jenis aroma yang berbeda setiap pagi dan mencoba melatih otak untuk mengategorikan aroma tersebut dengan tepat.

Gejala parosmia bukan kondisi permanen pada pasien covid-19. Neuron dapat memperbaiki dirinya sendiri seiring waktu.

Sebanyak 60 persen kasus parosmia yang disebabkan infeksi, fungsi penciuman dipulihkan pada tahun-tahun berikutnya. Waktu pemulihan bervariasi sesuai dengan penyebab gejala parosmia serta pengobatan yang digunakan.

Baca juga: Virus Corona Jenis Baru di Afrika Selatan Juga Cepat Menular 

Pasien covid-19. (Foto: Shutterstock)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini