Setelah Covid-19, Tak Menutup kemungkinan Ada Pandemi Penyakit Baru Lainnya

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Senin 04 Januari 2021 18:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 04 612 2338696 setelah-covid-19-tak-menutup-kemungkinan-ada-pandemi-penyakit-baru-lainnya-H5A6KfIBQG.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PENELITI menyebut bahwa dunia harus bersiap menghadapi penyakit baru, usai pandemi virus corona Covid-19. Meski saat ini semua fokus dan perhatian pemerintah tertuju pada Covid-19, namun sejumlah planning mulai diterapkan di kemudian hari.

Profesor Emritus Pengobatan Darurat di Universitas Arizona, Amerika Serikat (AS), dr. Kenneth Iserson mengatakan bahwa pemerintah harus sudah memikirkan beberapa langkah ke depan dengan membuat rencana baru.

Amerika Serikat (AS), misalnya, telah berkomitmen sebesar USD82 juta atau sekira Rp1,1 triliun selama lima tahun untuk mendirikan dan mendukung Pusat Penelitian dalam Penyakit Menular (Creid).

Mereka akan melakukan pengawasan global yang bertugas mendeteksi patogen pandemi berikutnya sebelum menyebar dari satwa liar menjadi manusia. Saat mengumumkan pendirian Creid pada Agustus, pakar penyakit menular terkemuka di AS, dr Anthony Fauci, menjelaskan bahwa krisis virus corona adalah faktor pendorong utama.

“Dampak pandemi Covid-19 berfungsi sebagai pengingat yang kuat dari kehancuran yang dapat ditimbulkan ketika virus baru menginfeksi manusia untuk pertama kalinya,” kata dr. Anthony, sebagaimana dilansir News Info.

Jaringan Creid akan memungkinkan peringatan dini penyakit yang ada di mana pun mereka muncul, yang akan sangat penting untuk respons cepat. Pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian ini akan meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi wabah di masa depan.

Mereka telah mengumpulkan dana untuk sistem pengawasan penyakit multidisiplin, dan meningkatkan kapasitas laboratorium untuk pekerjaan penelitian di seluruh negeri. Mereka juga telah mengucurkan dana sebanyak 150 miliar rupee atau sekira Rp28,5 triliun untuk tindakan terkait Covid-19.

Di Singapura, pemerintah telah memberikan anggaran SD25 miliar atau Rp263 triliun. Nominal besar ini adalah 5 persen dari produk domestik bruto 2019. Anggaran ini untuk serangkaian rencana yang memetakan lanskap penelitian negara itu selama lima tahun ke depan.

Beberapa di antaranya adalah program penelitian untuk kesiapsiagaan dan respons epidemi. Mereka akan menyempurnakan model untuk lebih memahami bagaimana epidemi dapat diatasi, serta memastikan bahwa diagnostik, perawatan, dan vaksin dapat dengan cepat disiapkan ketika krisis berikutnya melanda.

Jaringan internasional lainnya, seperti Global Virome Project, yang berupaya mendeteksi sebagian besar ancaman virus yang tidak diketahui di dunia terhadap kesehatan manusia. Mereka, melanjutkan upaya mereka dan mengumpulkan sumber daya dengan urgensi yang semakin besar.

Harapannya umat manusia dapat mempelajari segala sesuatu yang perlu diketahui. Penyakit berikutnya bahkan sebelum itu terjadi. Namun, masih banyak yang harus dilakukan, dengan terlalu sedikit perhatian yang saat ini diberikan.

"Kita juga perlu menghentikan penggundulan hutan dan mempromosikan makanan nabati, dalam preferensi untuk konsumsi makanan hewani yang berlebihan, terutama yang berasal dari hewan eksotik serta peternakan dan peternakan dan unggas," lanjutnya.

"Jika kita menjaga keseimbangan ekologi dan mengejar jalur pembangunan berkelanjutan, kita akan mengubah hubungan kita dengan bentuk kehidupan lain dari yang berbahaya menjadi harmoni,” tuntasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini