4 Cara Menghadapi Orangtua yang Hobi Mengkritik

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 07 Januari 2021 15:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 07 612 2340524 4-cara-menghadapi-orangtua-yang-hobi-mengkritik-PeUq9Pi6cc.jpg Anak dan orangtua (Foto: Money Under 30)

Semakin bertambah dewasa, punya batasan yang sehat dalam hubungan dengan orangtua adalah salah satu hal terpenting. Ini perlu dilakukan agar kita punya hubungan yang sehat demi mental yang sehat.

Tapi tak dipungkiri, banyak anak yang mungkin malas berkomunikasi dengan orangtuanya karena lelah mendegar rentetan kritikan.

Kurt Smith, Terapis di Roseville, California, Amerika menuturkan, ia sering mendengar soal isu orangtua yang kerap mengkritik anak-anaknya. Misalnya mengkritik apakah anaknya sudah memilih pasangan yang tepat dan sebagainya.

Lalu apa solusi yang bisa anak lakukan untuk menghadapi orangtua yang hobi mengkritik?

Mengutip Huffingtonpost, Kamis (7/1/20210) yuk baca dulu ulasan singkat 4 cara menghadapi orang tua yang rajin mengkritik.

 anak dan orantua

1. Ungkapkan batasan yang jelas

Buat dan ungkapkan batasan yang jelas sebelum berinteraksi dengan orangtua Anda. Anda harus tahu apa saja hal-hal yang nyaman dan bisa dibagikan ke orangtua, dan mana hal yang Anda lebih suka untuk disimpan sendiri.

Dijelaskan Sarah Joy Park, selaku psikolog, ada tiga tahap dalam membuat batasan ini. Pertama, bersikap spesifik tentang apa yang disuka dan konsekuensi apa yang akan terjadi jika batasan itu dilewati. Misalnya, dengan mengatakan Anda tidak mau melanjutkan obrolan jika orangtua terus-menerus membahas soal berat badan atau gaya penampilan Anda.

Kedua, Anda harus konsisten dengan batasan tersebut sehingga orang lain di sekitar kita bisa perlahan-lahan beradaptasi. Terakhir, kita harus menerima faktanya setiap orang punya pilihan tentang bagaimana merespon batasan itu. Pendek kata, kita tidak bisa memilih bagaimana orangtua akan bereaksi terhadap ‘peraturan’ yang kita buat.

2. Jelaskan kenapa Anda buat batasan itu

Jika topik pembicaraan adalah tentang hal yang kita tak keberatan bagi dengan orangtua. Paparkan dengan jelas, tentang alasan kita mengambil keputusan tersebut. Contohnya saat memutuskan pindah tempat bekerja, beri tahu orangtua meski gajinya lebih kecil namun lingkungan perusahaan lebih nyaman dan lokasi kantor jauh lebih dekat sehingga bisa menghemat waktu, energi dan uang.

Ibinye Osibodu-Onyali, Terapis Keluarga dan Pernikahan di California menjelaskan, biasanya paparan penjelasan ini bisa cukup memuaskan oran tua.

“Bawa mereka ke dunia Anda, sehingga mereka bisa lebih mengerti diri Anda. Setelah orangtua tahu Anda telah buat keputusan yang tepat, biasanya mereka tidak akan mengomeli Anda,” kata Ibinye.

 

3. Bicarakan apa kebutuhan Anda

Saran satu ini datang dari Alexis Bleich, Direktur Kip Therapy, New York, “Jangan cuma duduk diam dan menggerutu ketika orangtua berkomentar kejam atau kasar tentang kehidupan pribadi Anda. Pakai momen ini sebagai tanda, kita bisa bicara soal apa yang diri Anda butuhkan sebagai anak dari mereka sebagai orang tua ketimbang hanya mengkritik,” ujar Alexis.

Beri tahu orangtua, kalau Anda butuh dukungan moral, pengakuan telah melakukan hal dengan baik, atau pujian atas penampilan diri Anda.

 

4. Berterima kasih

Berterima kasih kepada orangtua di sini maksudnya, Anda sebagai anak bisa mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua karena telah membesarkan anak yang mandiri dan bisa mengambil keputusan sendiri.

“Orangtua itu biasanya ingin merasa kalau mereka sudah sukses membesarkan anak-anaknya. Mereka ingin tahu apakah diri mereka sudah jadi ayah atau ibu yang baik. Salah satu indikatornya, ialah melihat anak-anaknya mandiri dan punya kemampuan mengambil keputusan yang baik. Ingatkan orangtua bahwa mereka telah melakukan semua itu,” tutur Kurt Smith.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini