Studi di Wuhan Sebut Gejala Covid-19 Bisa Bertahan hingga 6 Bulan

Pradita Ananda, Jurnalis · Senin 11 Januari 2021 13:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 11 481 2342450 studi-di-wuhan-sebut-gejala-covid-19-bisa-bertahan-hingga-6-bulan-R3ucV6x4zQ.jpg Pandemi virus corona (Foto: Oddity)

Sudah mewabah hingga menjadi pandemi selama kurang lebih satu tahun, studi terkait penyakit Covid-19 hingga saat ini masih terus dilakukan oleh para peneliti.

Salah satu contohnya, studi terbaru yang datang dari Wuhan, China. Seperti dilansir dari NBC News, Senin (11/1/2021), menurut studi penelitian yang dipublikasikan di jurnal medis The Lancet pada Jumat 8 Januari lalu, menyebutkan gejala-gejala dari Covid-19 masih ada atau masih bisa dirasakan seseorang hingga selama 6 bulan.

 pasien Covid-19

Studi penelitian ini fokus pada 1.733 orang dengan Covid-19 yang dirawat di rumah sakit di Wuhan, China dari periode Januari hingga Mei 2020. Waktu saat banyak orang sudah dirawat di rumah sakit, bahkan sebelum penyakit ini memiliki nama.

Sebanyak 3/4 pasien melaporkan masih merasakan gejala yang masih ada hingga 6 bulan selanjutnya, setelah diagnosis awal mereka. Sebanyak 63% pasien mengaku kelelahan dan merasakan lemah otot. Sementara 23% lainnya mengungkapkan mengalami kecemasan atau depresi, dan 26% lainnya sulit tidur.

Dr. Bin Cao selaku penulis studi sekaligus wakil direktur Center for Respiratory Diseases at China-Japan Friendship Hospital di Beijing menyebutkan, gejala bertahan lama pada pasien bahkan setelah pasien bisa keluar dari rumah sakit.

“Analisis kami memperlihatkan bahwa sebagian besar pasien terus hidup dengan paling tidak, beberapa efek dari virus walau setelah pulang dari rumah sakit,” bunyi pernyataan Dr.Bin Cao.

 Baca juga: 4 Koleksi Fashion Glenca Chysara 'Elsa' Ikatan Cinta, Semua di Bawah Rp1 Juta!

Untuk diketahui, studi di atas dikatakan sebagai studi observasi, yang bartinya tidak mungkin untuk menghubungkan gejala-gejala tersebut secara langsung dengan virus corona. Agar bisa menunjukkan kaitan yang sebenarnya, penelitian perlu membandingkan hasil Covid-19 dengan orang-orang yang dirawat di rumah sakit dengan infeksi serupa yang juga dapat menyebabkan pneumonia.

Sejauh ini disebutkan masih belum jelas, apakah terganggunya fungsi paru-paru itu disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19 ataukah karena kondisi riwayat kesehatan lainnya. Pasien yang menjadi peserta studi penelitian ini juga hanya beberapa yang dirawat di ICU, dengan kata lain temuan studi ini mungkin saja tidak berlaku terhadap pasien yang mengalami kondisi terparah.

Dr. Bin Cao menegaskan, karena ini adalah jenis virus yang baru, maka sebetulnya untuk bisa memahami detail tentang virus tersebut masih jadi perjalanan yang panjang.

“Karena Covid-19 ini adalah penyakit yang baru, kami di titik baru mulai memahami beberapa dari efek jangka panjangnya pada kesehatan pasien. Penelitian ini mungkin bisa berfungsi, untuk menyoroti soal peningkatan kebutuhan perawatan pada pasien Covid-19 bahkan ketika sudah keluar dari rumah sakit,” pungkasnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini