83% Tenaga Kesehatan Burnout, Masyarakat Diminta Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 11 Januari 2021 15:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 11 481 2342537 83-tenaga-kesehatan-burnout-masyarakat-diminta-disiplin-terapkan-protokol-kesehatan-tJSrbgasDd.jpg Tenaga kesehatan burnout (Foto: raffin medical)

Sudah lebih dari 10 bulan Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Namun hingga saat ini penyebaran virus corona masih juga belum dapat ditekan. Angka kasus positif bahkan terus meningkat signifikan hingga menyentuh 10.617 kasus per hari pada Jumat 8 Januari 2021.

Di sisi lain, Indonesia tengah menghadapi  sebuah permasalahan pelik terkait kesehatan para tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam menghadapi pandemi Covid-19.

 tenaga kesehatan

Menurut hasil penelitian yang dilakukan Program Magister Kedokteran Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (MKK FKUI), sebanyak 83% tenaga kesehatan mengalami 'burnout'. Burnout sendiri merupakan suatu kondisi di saat seseorang mengalami kelelahan mental dan fisik karena adanya stres berkepanjangan dari tempat mereka bekerja atau dari lingkungan lain.

"Penelitian ini kami lakukan secara daring sejak Agustus hingga Desember 2020. Metodenya dengan mengumpulkan sebanyak 1.461 responden dari kalangan tenaga kesehatan. Sebanyak 83% dari mereka mengaku dalam keadaan burnout tingkat sedang, belum jatuh dalam keadaan burnout berat," kata Ketua Tim Peneliti dari Program Studi MKK FKUI Dr. dr. Dewi S. Soemarko, MS, SpOK, dalam webinar bersama BNPB, Senin (11/1/2021).

Dokter Dewi menambahkan, sebagian besar nakes yang mengalami burnout berasal dari kalangan dokter umum yang pernah menangani pasien Covid-19 dengan jumlah mencapai 580 orang.

Selain itu, penelitian lain yang dilakukan sebuah rumah sakit menyebutkan, para nakes yang bekerja di zona merah dan zona kuning seperti ruang ICU, juga mengalami gangguan kecemasan tingkat sedang.

"Dari penelitian ini kita juga bisa lihat risiko untuk gangguan kecemasan itu menjadi lebih besar pada nakes yang pernah menjalani karantina," terang Dokter Dewi.

Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Sub Bidang Sosialisasi Perubahan Perilaku Satgas Covid-19, Dr. Ir. Dwi Listyawardani, M.Sc., Dip.Com, mengimbau masyarakat Indonesia untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan, meski wacana vaksinasi telah santer terdengar.

Dokter Dani tidak menampik di kalangan masyarakat pun tengah terjadi fenomena pandemic fatigue, atau kondisi ketika seseorang lelah akan ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi. Hal inilah yang kemudian memicu terjadinya ketidakpatuhan pada penerapan protokol kesehatan dalam upaya encegahan penyebaran virus corona.

"Tenaga kesehatan kita itu lelah, daya tahan tubuhnya juga turun. Pertanyaannya kalau mereka sakit siapa yang mau menggantikan? Mereka itu aset yang harus dijaga. Kita menyekolahkan mereka itu membutuhkan waktu yang lama, berbeda dengan bidang-bidang lain. Regenerasi tidak bisa terjadi secara cepat. Sehingga kita harus membantu mereka dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan, meskipun nantinya sudah ada vaksin," tegasnya.

Untuk menanggulangi permasalahan ini, Dokter Dani mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan maupun perhimpunan profesi untuk segera membantu nakes yang mengalami burnout.

"Kasus burnout ini biasanya perhimpunan profesi yang akan membantu. Hasil penelusuran kami, burnout itu terjadi karena jam kerjanya yang tinggi. Biasanya 8 jam, sekarang bisa jadi 12 jam atau lebih. Jadi jam kerja ini harus diperhatikan," kata Dokter Dani.

"Pihak keluarga juga memainkan peran penting untuk turut serta menjaga kesehatan mereka. Yang sering kecolongan itu mereka terpapar di rumah. Karena ketika sampai di rumah, tidak ada sanksi atau peraturan yang terikat. Banyak sekali kasus nakes yang terjadi tertular oleh orang rumah," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini