Alami Pandemic Fatigue, Ini Tanda-tandanya

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 11 Januari 2021 15:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 11 481 2342569 alami-pandemic-fatigue-ini-tanda-tandanya-RBSShEFIE4.jpg Pandemic Fatigue (Foto: Newsgram)

Sadar atau tidak, sebagian masyarakat Indonesia saat ini tengah mengalami sebuah kondisi yang disebut dengan istilah pandemic fatigue. Secara garis besar, pandemic fatigue adalah kondisi ketika seseorang lelah akan ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi Covid-19.

Kondisi tersebut memicu terjadinya ketidakpatuhan dan demotivasi. Masyarakat menjadi lebih cuek dan apatis dalam menerapkan protokol kesehatan

 pandemic fatigue

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kelelahan akan pandemi merupakan hal yang wajar dan sangat manusiawi. Namun bila dibiarkan terus menerus, dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak lebih besar seperti peningkatan kasus positif dan angka kematian yang signifikan.

Untuk mengantisipasi hal ini, Kepala Divisi Psikiatri Forensik RSCM sekaligus Ketua Prodi Spesial Kedokteran Jiwa FKUI, dr. Natalia Widiasih Raharjanti, Sp.KJ(K), MPdKed, mengatakan pandemic fatigue bisa dihindari dan disembuhkan dengan beberapa cara sederhana.

Langkah pertama adalah dengan mengetahui gejalanya. "Perlu kita kenali dulu, apakah kita ada tanda-tanda kelelahan. Bisa dilihat dari tingkat emosi kita. Apalah mudah sensitif, mudah marah, kita menjadi apatis dan lain sebagainya," terang dr. Natalia dalam webinar bersama BNPB, Senin (11/1/2021).

Begitu muncul gejala-gejala tersebut, dr. Natalia menganjurkan untuk langsung beristirihat, jangan melakukan kegiatan apapun. Cara paling sederhana dan ampuh adalah tidur.

Namun terkadang, ada kalanya seseorang berada dalam kondisi fight (melawan) or flight (menghindar). Jika sudah demikian, biasanya mereka akan kesulitan untuk tidur atau beristirahat.

"Maka dari itu, kita harus belajar teknik relaksasi. Tipe relaksasi orang beda-beda. Ada yang yoga, ada yang harus menyalurkan energinya dengan melakukan kegiatan seperti thai boxing atau nonton film horror. Intinya temukan cara supaya kita bisa rileks," kata dr. Natalia.

"Dari situ, kita bisa mengenali diri kita dan mengetahui apa sumber kecemasan kita. Misalnya apakah karena kita suka membaca informasi-informasi di media sosial. Jika benar, mulailah melatih pikiran untuk tetap positif," timpalnya.

Tak kalah penting, dr. Natalia juga menyarankan masyarakat untuk mulai mempelajari kebutuhan dan perilaku orang-orang di sekitarnya seperti rekan kerja atau anggota keluarga.

"Jangan pernah diam saja. Kita harus aktif. Harus kita pelajari kebutuhan mereka apa, sehingga kita bisa berkomunikasi dengan cara yang benar. Sekarang ini kita harus benar-benar aware dengan orang-orang di sekitar agar bisa saling support. Sehingga mereka merasa masih dilibatkan, karena pada dasarnya manusia itu makhluk sosial," tandasnya.

(DRM)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini